Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 23 Juli 2016

CERPEN DENNY INDRA PRAJA: SUNDARI DAN TAHUN-TAHUN KESEDIHANNYA


Namaku Sundari, seorang perempuan yang selalu diselubungi kesedihan. Mungkin saat kalian membaca catatan ini, kesedihanku telah berusia bertahun-tahun tanpa bisa dihitung. Dalam hidupku telah melintas berbagai kejadian-kejadian sedih dan memilukan hati, telah berbekas segala lara dan air mata, telah tamat berbagai jenis perpisahan yang paling mungkin di dunia, sehingga hatiku yang penuh dengan bekas-bekas luka pun telah menjadi kebal. Maka kutulis catatan ini yang mungkin tidak akan pernah sekalipun mengurangi kadar kesedihanku, di dalam sebuah ruangan sempit nan gelap yang membatasiku dari keramaian orang-orang yang tengah sibuk dengan kebahagiaannya masing-masing.
Kuawali goresan-goresan pena ini dengan sebuah pengakuan dari hati, jika kesedihan yang menyelubungi diriku ini telah membuatku menjadi seorang yang cepat berputus asa. Setiap kali ada yang harus aku perjuangkan, maka akulah yang pertama kali merasakan keputusasaan. Banyak orang-orang yang telah kukecewakan termasuk orang-orang di sekelilingku, telah aku hapuskan harapan orang-orang yang tercinta terhadapku. Selama tahun-tahun kesedihanku, mimpiku belum satupun terwujud, sehingga di dalam hatiku yang penuh luka ini tidak ada lagi rasa optimisme. Segala sesuatu yang kuimpikan selalu berujung rasa sakit hati, maka aku pun menjadi seorang yang pesimis, tidak peduli dengan masa depan orang-orang di sekelilingku. Tubuhku telah membeku menjadi sebuah kesedihan yang tidak ada tandingannya. Sepertinya, aku adalah orang yang selalu berdampingan dengan kegagalan. Tubuhku selalu ditempeli oleh aura kegagalan seperti perangko yang menempel pada surat. Tidak mungkin seseorang mengalami segala kegagalan dalam hidupnya melainkan aku pun pernah mengalaminya. Apabila orang-orang mendengarkan dan merasakan derita hatiku, mungkin mereka akan berterima kasih kepada Tuhan karena tidak lahir menjadi diriku di sepanjang hidupnya.
Dalam sepi dan gelapnya malam, ketika jarum jam saling bertemu, penaku menari-nari di atas kertas putih usang dengan catatan-catatan panjang berupa nyanyian-nyanyian kesedihan, kertas-kertas usang itu berisi catatan-catatan tentang apa yang seharusnya kulakukan sebagai seorang yang dibutuhkan untuk memberi kasih sayang, juga tentang apa yang seharusnya kusesalkan karena telah lari dari masalah dan gagal total untuk menyelesaikannya. Terkadang pula kuhabiskan waktu dengan menulis catatan-catatan yang tidak pernah kupahami maknanya. Kutulis catatan-catatan tentang daftar-daftar kesedihan dan kegagalanku, kutulis catatan tentang masa lalu yang indah, kutulis puisi-puisi yang menggambarkan kesedihanku. Kutulis puisi cinta seolah aku sedang berbunga-bunga, kutulis puisi-puisi yang justru membuatku makin jatuh ke dalam palung pesimistis.
Kutulis puisi-puisi di tengah malam dan esok harinya akan aku kumpulkan kertas-kertas usang itu dan membuangnya ke tempat sampah. Suatu hari di hari minggu yang suram kutemukan catatan-catatan kesedihanku tercecer di halaman rumah tempatku bekerja sebagai buruh migran. Aku biarkan semua orang menemukan puisiku yang berserak dan membacanya. Untuk apa? Agar mereka tahu tentang tahun-tahun kesedihanku? Sudah bertahun-tahun hatiku diselubungi kabut kesedihan, dan aku mungkin belum bosan dengan berbagai kesedihan yang lain. Tetapi menurutku, kehidupanku adalah yang paling indah. Aku hidup di dunia ini, maka aku punya alasan untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendak hatiku. Materi tidak berhak mengatur hidupku, tidak pula dengan gaji bulananku, perhiasan-perhiasan yang gemerlap, pakaian dan tas yang terpajang di mal-mal yang dapat menghijaukan mata, atau sepatu-sepatu yang dapat membuat kita kagum melihatnya. Aku tidak akan merasa teraniaya di negeri orang selama aku selalu ingat dengan Tuhan. Ketika ribuan manusia sedang mengantri di taman hiburan, aku sedang mengepel lantai. Ketika orang-orang berlibur di akhir pekan, aku sibuk berlari-lari dari lantai ke lantai untuk membersihkannya.
Namun, bukannya aku tidak peduli dengan keadaan sekitarku. Aku adalah orang pesimis yang selalu mendoakan orang lain agar beruntung nasibnya. Mendoakan mereka agar mereka tidak selalu ditimpa kegagalan, dimana kegagalan itu selalu menimpaku. Kupandangi orang-orang berjalan beriringan sambil tersenyum bahagia, membicarakan tentang hari-hari mereka yang bahagia dan rencana-rencana hebat yang mereka buat. Kudoakan agar masa depan mereka begitu cerah, menjadi apa yang mereka cita-citakan, menikah dengan orang yang mereka cintai, sukses dan kaya raya. Kulihat juga pedagang yang tengah duduk dipayungi matahari menunggui barang dagangannya, menghitung uang receh yang tak seberapa berharga bagi orang-orang di sekitarnya. Kudoakan kelak anaknya bisa selalu membahagiakannya, agar dia tidak lagi berjualan di taman sambil dipayungi oleh matahari.
Sepuluh tahun berlalu hingga aku tidak lagi mengerti arti dari sebuah kesuksesan dan kebahagiaan. Saat berjalan-jalan di taman, kudengar orang-orang saling membicarakan impian-impian mereka, kudengar orang-orang ingin berkumpul untuk bertukar pikiran tentang kesuksesan mereka. Namun, aku adalah seorang pesimis yang terbaik yang pernah ada, tidak pernah percaya pada impian. Aku hanya ingin hidup di masa sekarang, melihat burung-burung pulang ke sarangnya, memandangi jalanan kota dari kamar sempitku. Aku suka duduk di dekat jendela menjelang malam, ditemani hembusan angin senja, melihat mobil-mobil yang lalu lalang. Aku berbaur dengan segala macam suara di kota ini, gelak tawa para remaja bersama pasangannya di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari apartemen tempatku bekerja, hingga suara kelakar anak-anak.
Hari-hari berjalan dan aku tidak melakukan apa pun, sementara waktu terus merontokkan helai demi helai daun usiaku. Berlalu sudah sepuluh tahun yang tidak berarti apa-apa bagiku. Jika aku berusia seratus tahun, maka akan kulewati seratus tahun kesedihan. Aku akan menjelma menjadi seorang perempuan dan bahkan disakiti oleh laki-laki yang tidak pernah ada.
Kesedihan demi kesedihan ibarat nyala lilin di dalam ingatanku. Kepalaku menolak berpikir tentang bagaimana mengenyahkan kenyataan yang mengelilingiku, seolah telah putus asa seluruh otot-ototnya. Kutinggalkan semua yang kusayang di kampung halaman, termasuk anakku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Ketika kulihat orang-orang larut dalam siklus kehidupan: lahir, belajar, bekerja, menikah, memiliki keturunan, lalu dikubur. Aku berada dalam siklus yang diam. Umurku jelas bertambah tapi aku percaya ucapan orang bijak bahwa umur cuma perasaan.
Dalam urusan cinta, aku adalah pesimis yang terbaik, gagal total. Pernah kunikahi seorang laki-laki yang tubuhnya terbuat dari belaian musim semi, ia berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan kepadaku dan melindungiku seumur hidup, tapi ia tidak juga menepati janjinya dan aku mulai merasa gagal tentang perasaanku, bahwa cinta adalah urusan sepele yang menolak diselesaikan.
Semenjak itu, aku merancang pelarianku merantau ke negara tetangga untuk menghilangkan kesedihan, dan aku memutuskan untuk tidak mencintai laki-laki mana pun, karena aku merasa seluruh laki-laki di dunia ini telah menghindariku. Aku mulai terbiasa untuk tidak membutuhkan cinta dari laki-laki manapun, baik yang dihias dengan ornamen kata-kata, maupun yang langsung membayar untuk menyewa hotel bintang tiga. Sekarang aku fokus mencintai buah hatiku. Bebas mencintai apa saja, termasuk warna kota di malam hari, lalu lalang manusia, kafe remang-remang, rumput-rumput hijau di taman. Aku juga mencintai gemerisik dahan pepohonan sepanjang jalan yang dibelai angin sepoi.
Aku adalah sang pemilik kesedihan, jika kau bertemu denganku, jangan nasihati aku dengan nasihat panjang lebar, jangan beri aku semangat dan kata-kata bijak. Jangan tanyakan kepadaku tentang apa yang gagal kulakukan di masa lalu. Cukup temani aku duduk dengan mengamati jatuhnya senja pada warna-warni kota. Kalau kau sudah bosan atau ingin pulang, maka biarkan aku berjalan di sisa malam di bawah sinar purnama. Biarkan aku bahagia dengan cara menjadi orang yang paling sedih di dunia.
***
Bila saja, seandainya kesedihan itu ditakdirkan berpasangan, sebagaimana segala sesuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, maka kubayangkan di suatu tempat yang jauh, masih ada sesosok laki-laki yang juga sangat pesimistis, yang ditikam kesedihan dan tidak percaya pada dunia, yang telah menghabiskan tahun-tahunnya menunggu seseorang agar bisa berbagi kesedihan di sisinya.
Jika kau selesai membaca catatan ini lalu kau bertemu laki-laki itu, jangan katakan apa pun kepadanya. [ ]


BIODATA:
Denny Indra Praja dilahirkan di Kabupaten Bangkalan, Madura Jawa Timur pada Tanggal 03 Maret 1981. Lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Bangkalan Madura juga melahirkan beberapa buku fiksi dan non fiksi, buku fiksi diantaranya adalah Mawar Putih Untuk Aisha (Kumpulan Cerpen, 2011. Nulisbuku Publishing), Bidadari Untuk Suamiku ( Novel, 2012. Nulisbuku Publishing), Kasih Tak Berbingkai (Cerpen Dalam Antologi Cerpen Rahasia Sekeping Hati, 2011. AGP Publishing), Cuma Sama Kamu Dengan Nama Pena Kim Jong Hyun Penerbit Diva Press, November 2014), Cupid (Pena House, 2015), Sajak Di sudut Daun (Antologi Merantau Malam, Sabana Pustaka, 2015). Sedangkan untuk buku non fiksi diantaranya adalah, Super Foods : Beragam pangan fungsional menyehatkan (Diva Press, 2011), Miracle Of Probiotics (Diva Press, 2011), Super Foods For Good Mood (Diva Press, 2012), Miracle Of Probiotics (Diterbitkan oleh Ar Risalah Publisher Sdn. Bhd Malaysia 2013 atas ijin dari Penerbit Diva Press). Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Majalah Mingguan Wanita Malaysia, Majalah Tunas Cipta Malaysia, Tabloid Nova, Koran Dinamikanews, Koran Radar Madura, Koran Madura, Haluan Padang, Metro Riau Radar Surabaya dll. Penulis bisa dihubungi di email : denada.polepel@gmail.com




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter