Namaku
Sundari, seorang perempuan yang selalu diselubungi kesedihan. Mungkin saat kalian
membaca catatan ini, kesedihanku telah berusia bertahun-tahun tanpa bisa
dihitung. Dalam hidupku telah melintas berbagai kejadian-kejadian sedih dan
memilukan hati, telah berbekas segala lara dan air mata, telah tamat berbagai
jenis perpisahan yang paling mungkin di dunia, sehingga hatiku yang penuh
dengan bekas-bekas luka pun telah menjadi kebal. Maka kutulis catatan ini yang mungkin
tidak akan pernah sekalipun mengurangi kadar kesedihanku, di dalam sebuah ruangan
sempit nan gelap yang membatasiku dari keramaian orang-orang yang tengah sibuk dengan
kebahagiaannya masing-masing.
Kuawali
goresan-goresan pena ini dengan sebuah pengakuan dari hati, jika kesedihan yang
menyelubungi diriku ini telah membuatku menjadi seorang yang cepat berputus
asa. Setiap kali ada yang harus aku perjuangkan, maka akulah yang pertama kali
merasakan keputusasaan. Banyak orang-orang yang telah kukecewakan termasuk
orang-orang di sekelilingku, telah aku hapuskan harapan orang-orang yang
tercinta terhadapku. Selama tahun-tahun kesedihanku, mimpiku belum satupun
terwujud, sehingga di dalam hatiku yang penuh luka ini tidak ada lagi rasa optimisme.
Segala sesuatu yang kuimpikan selalu berujung rasa sakit hati, maka aku pun
menjadi seorang yang pesimis, tidak peduli dengan masa depan orang-orang di
sekelilingku. Tubuhku telah membeku menjadi sebuah kesedihan yang tidak ada
tandingannya. Sepertinya, aku adalah orang yang selalu berdampingan dengan
kegagalan. Tubuhku selalu ditempeli oleh aura kegagalan seperti perangko yang
menempel pada surat. Tidak mungkin seseorang mengalami segala kegagalan dalam
hidupnya melainkan aku pun pernah mengalaminya. Apabila orang-orang mendengarkan
dan merasakan derita hatiku, mungkin mereka akan berterima kasih kepada Tuhan
karena tidak lahir menjadi diriku di sepanjang hidupnya.
Dalam
sepi dan gelapnya malam, ketika jarum jam saling bertemu, penaku menari-nari di
atas kertas putih usang dengan catatan-catatan panjang berupa nyanyian-nyanyian
kesedihan, kertas-kertas usang itu berisi catatan-catatan tentang apa yang
seharusnya kulakukan sebagai seorang yang dibutuhkan untuk memberi kasih sayang,
juga tentang apa yang seharusnya kusesalkan karena telah lari dari masalah dan gagal
total untuk menyelesaikannya. Terkadang pula kuhabiskan waktu dengan menulis catatan-catatan
yang tidak pernah kupahami maknanya. Kutulis catatan-catatan tentang daftar-daftar
kesedihan dan kegagalanku, kutulis catatan tentang masa lalu yang indah,
kutulis puisi-puisi yang menggambarkan kesedihanku. Kutulis puisi cinta seolah
aku sedang berbunga-bunga, kutulis puisi-puisi yang justru membuatku makin
jatuh ke dalam palung pesimistis.
Kutulis
puisi-puisi di tengah malam dan esok harinya akan aku kumpulkan kertas-kertas
usang itu dan membuangnya ke tempat sampah. Suatu hari di hari minggu yang
suram kutemukan catatan-catatan kesedihanku tercecer di halaman rumah tempatku
bekerja sebagai buruh migran. Aku biarkan semua orang menemukan puisiku yang
berserak dan membacanya. Untuk apa? Agar mereka tahu tentang tahun-tahun
kesedihanku? Sudah bertahun-tahun hatiku diselubungi kabut kesedihan, dan aku
mungkin belum bosan dengan berbagai kesedihan yang lain. Tetapi menurutku, kehidupanku
adalah yang paling indah. Aku hidup di dunia ini, maka aku punya alasan untuk melakukan
apapun sesuai dengan kehendak hatiku. Materi tidak berhak mengatur hidupku,
tidak pula dengan gaji bulananku, perhiasan-perhiasan yang gemerlap, pakaian
dan tas yang terpajang di mal-mal yang dapat menghijaukan mata, atau
sepatu-sepatu yang dapat membuat kita kagum melihatnya. Aku tidak akan merasa
teraniaya di negeri orang selama aku selalu ingat dengan Tuhan. Ketika ribuan
manusia sedang mengantri di taman hiburan, aku sedang mengepel lantai. Ketika
orang-orang berlibur di akhir pekan, aku sibuk berlari-lari dari lantai ke
lantai untuk membersihkannya.
Namun,
bukannya aku tidak peduli dengan keadaan sekitarku. Aku adalah orang pesimis
yang selalu mendoakan orang lain agar beruntung nasibnya. Mendoakan mereka agar
mereka tidak selalu ditimpa kegagalan, dimana kegagalan itu selalu menimpaku.
Kupandangi orang-orang berjalan beriringan sambil tersenyum bahagia,
membicarakan tentang hari-hari mereka yang bahagia dan rencana-rencana hebat
yang mereka buat. Kudoakan agar masa depan mereka begitu cerah, menjadi apa
yang mereka cita-citakan, menikah dengan orang yang mereka cintai, sukses dan
kaya raya. Kulihat juga pedagang yang tengah duduk dipayungi matahari menunggui
barang dagangannya, menghitung uang receh yang tak seberapa berharga bagi
orang-orang di sekitarnya. Kudoakan kelak anaknya bisa selalu membahagiakannya,
agar dia tidak lagi berjualan di taman sambil dipayungi oleh matahari.
Sepuluh
tahun berlalu hingga aku tidak lagi mengerti arti dari sebuah kesuksesan dan
kebahagiaan. Saat berjalan-jalan di taman, kudengar orang-orang saling
membicarakan impian-impian mereka, kudengar orang-orang ingin berkumpul untuk
bertukar pikiran tentang kesuksesan mereka. Namun, aku adalah seorang pesimis
yang terbaik yang pernah ada, tidak pernah percaya pada impian. Aku hanya ingin
hidup di masa sekarang, melihat burung-burung pulang ke sarangnya, memandangi jalanan
kota dari kamar sempitku. Aku suka duduk di dekat jendela menjelang malam,
ditemani hembusan angin senja, melihat mobil-mobil yang lalu lalang. Aku
berbaur dengan segala macam suara di kota ini, gelak tawa para remaja bersama
pasangannya di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari apartemen tempatku
bekerja, hingga suara kelakar anak-anak.
Hari-hari
berjalan dan aku tidak melakukan apa pun, sementara waktu terus merontokkan
helai demi helai daun usiaku. Berlalu sudah sepuluh tahun yang tidak berarti apa-apa
bagiku. Jika aku berusia seratus tahun, maka akan kulewati seratus tahun
kesedihan. Aku akan menjelma menjadi seorang perempuan dan bahkan disakiti oleh
laki-laki yang tidak pernah ada.
Kesedihan
demi kesedihan ibarat nyala lilin di dalam ingatanku. Kepalaku menolak berpikir
tentang bagaimana mengenyahkan kenyataan yang mengelilingiku, seolah telah
putus asa seluruh otot-ototnya. Kutinggalkan semua yang kusayang di kampung
halaman, termasuk anakku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Ketika
kulihat orang-orang larut dalam siklus kehidupan: lahir, belajar, bekerja,
menikah, memiliki keturunan, lalu dikubur. Aku berada dalam siklus yang diam.
Umurku jelas bertambah tapi aku percaya ucapan orang bijak bahwa umur cuma
perasaan.
Dalam
urusan cinta, aku adalah pesimis yang terbaik, gagal total. Pernah kunikahi
seorang laki-laki yang tubuhnya terbuat dari belaian musim semi, ia berjanji akan
selalu memberikan kebahagiaan kepadaku dan melindungiku seumur hidup, tapi ia
tidak juga menepati janjinya dan aku mulai merasa gagal tentang perasaanku,
bahwa cinta adalah urusan sepele yang menolak diselesaikan.
Semenjak
itu, aku merancang pelarianku merantau ke negara tetangga untuk menghilangkan
kesedihan, dan aku
memutuskan untuk tidak mencintai laki-laki mana pun, karena aku merasa seluruh laki-laki
di dunia ini telah menghindariku. Aku mulai terbiasa untuk tidak membutuhkan
cinta dari laki-laki manapun, baik yang dihias dengan ornamen kata-kata, maupun
yang langsung membayar untuk menyewa hotel bintang tiga. Sekarang aku fokus mencintai
buah hatiku. Bebas mencintai apa saja, termasuk warna kota di malam hari, lalu
lalang manusia, kafe remang-remang, rumput-rumput hijau di taman. Aku juga
mencintai gemerisik dahan pepohonan sepanjang jalan yang dibelai angin sepoi.
Aku
adalah sang pemilik kesedihan, jika kau bertemu denganku, jangan nasihati aku
dengan nasihat panjang lebar, jangan beri aku semangat dan kata-kata bijak.
Jangan tanyakan kepadaku tentang apa yang gagal kulakukan di masa lalu. Cukup
temani aku duduk dengan mengamati jatuhnya senja pada warna-warni kota. Kalau
kau sudah bosan atau ingin pulang, maka biarkan aku berjalan di sisa malam di bawah
sinar purnama. Biarkan aku bahagia dengan cara menjadi orang yang paling sedih
di dunia.
***
Bila
saja, seandainya kesedihan itu ditakdirkan berpasangan, sebagaimana segala sesuatu
di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, maka kubayangkan di suatu tempat
yang jauh, masih ada sesosok laki-laki yang juga sangat pesimistis, yang
ditikam kesedihan dan tidak percaya pada dunia, yang telah menghabiskan tahun-tahunnya
menunggu seseorang agar bisa berbagi kesedihan di sisinya.
Jika
kau selesai membaca catatan ini lalu kau bertemu laki-laki itu, jangan katakan
apa pun kepadanya. [ ]
BIODATA:
Denny Indra Praja dilahirkan di Kabupaten Bangkalan, Madura Jawa Timur
pada Tanggal 03 Maret 1981. Lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo
Bangkalan Madura juga melahirkan beberapa buku fiksi dan non fiksi, buku fiksi
diantaranya adalah Mawar
Putih Untuk Aisha (Kumpulan Cerpen, 2011. Nulisbuku Publishing), Bidadari Untuk Suamiku ( Novel, 2012.
Nulisbuku Publishing), Kasih Tak Berbingkai (Cerpen Dalam
Antologi Cerpen Rahasia Sekeping Hati, 2011. AGP Publishing), Cuma Sama
Kamu Dengan Nama Pena Kim
Jong Hyun Penerbit Diva Press, November 2014), Cupid (Pena House, 2015), Sajak
Di sudut Daun (Antologi Merantau Malam, Sabana Pustaka, 2015). Sedangkan
untuk buku non fiksi diantaranya adalah, Super
Foods : Beragam pangan fungsional menyehatkan (Diva Press, 2011), Miracle
Of Probiotics (Diva Press, 2011), Super Foods For Good Mood (Diva Press,
2012), Miracle Of Probiotics (Diterbitkan
oleh Ar Risalah Publisher Sdn. Bhd Malaysia 2013 atas ijin dari Penerbit Diva
Press). Cerpen-cerpennya
pernah dimuat di Majalah Mingguan Wanita Malaysia, Majalah Tunas Cipta
Malaysia, Tabloid Nova, Koran Dinamikanews, Koran Radar Madura, Koran Madura,
Haluan Padang, Metro Riau Radar Surabaya dll. Penulis bisa dihubungi di email : denada.polepel@gmail.com

