Setiap daerah tentu mempunyai pakaian adat masing-masing. Begitu pula Suku Bugis dan Makassar, pakaian adat khasnya
bernama Baju Bodo’. Teman-teman jangan salah mengartikan dulu, ya! Nama baju ini bukan bodoh, melainkan bodo yang dalam bahasa Makassar berarti pendek. Dahulu, baju ini dipakai
tanpa dalaman sehingga menimbulkan lekuk tubuh.
Nama lain dari baju Bodo’ adalah baju Gesung. Baju khas
Makassar ini sudah dikenal oleh masyarakat sejak abad IX. Oleh karena itu, baju Bodo merupakan salah satu pakaian khas tertua di Dunia.
Pada awalnya, baju Bodo ini memang berbahan dasar kain Muslin yakni kain sejenis kasa, dan sekarang berubah menjadi kain sutera. Hal ini dikarenakan masuknya pengaruh Islam di
Sulawesi. Baju yang tadinya bermodel transparan dan memperlihatkan aurat, akhirnya
dimodifikasi menjadi lebih tebal dan tertutup. Sehingga, bisa digunakan
dengan tetap memakai kerudung. Sedangkan pasangan bawah dari baju bodo adalah sarung sutera.
Bentuk dari baju itu sendiri adalah potongan simetris sederhana dengan efek menggelembung dan longgar. Meskipun sederhana, baju Bodo’ tetap terlihat anggun dan terkesan kekinian. Baju khusus wanita ini digunakan dalam acara pernikahan atau Botting,
upacara adat, dan festival seni.
Tidak seperti baju adat lainnya yang hanya identik dengan
satu warna, maka Baju Bodo’ memiliki warna yang beraneka ragam, yaitu merah,
kuning, hijau muda, hijau tua, ungu, biru tua dan biru muda. Untuk
menambah keindahannya, biasanya pakaian ini dipadukan dengan gelang lebar serta bando yang terbuat dari besi untuk anak-anak.
Pakaian adat ini keren sekali, ya. Semoga baju Bodo’ lebih terkenal dan jangan sampai hilang tergantikan oleh perkembangan pakaian modern saat ini. Sebagai generasi penerus bangsa, mari kita lestarikan baju Bodo’ sebagai satu budaya Bangsa Indonesia. [
]
*Tulisan ini pernah dipublikasikan
dalam Buletin “LEARN” SMP NEGERI 8 Makassar. Buletin sekolah yang memuat
karangan bagi siswa yang mengikuti organisasi Jurnalistik.
BIODATA
Perkenalkan,
namaku Ainun Mubin Misbah N. Umurku 14 Tahun. Aku alumni SD Negeri Kompleks
IKIP 1 Makassar. Sekarang, aku bersekolah di SMP Negeri 8 Makassar dan mengikuti
organisasi Jurnalistik.
Jika ingin
memberikan kritik maupun saran, bisa melalui nomor ponselku: 082293862686,
alamat rumah: Jl. Toddopuli Raya Timur, Perum. Ilma Green Residence Blok DL No.
43 Makassar 90233, E-mail: putriainun38@gmail.com,
serta
akun instagramku: ainunmubin.
9 bukuku yang telah terbit: KetikaSenjaMulaiRedup
(Kaifa Publishing, 2016), Karena Allah (Pena
Indis, 2016), Nada-Nada Rindu (Gema
Media Wonosobo, 2016), Ritme Syair Mimpi
(Isy Karima Media, 2016), Falsafah Yang
Rendah Yang Kuselami Di Batang Canduku (Gusmus Pustaka, 2016), Pesona Kotaku (FAM Publishing, 2016), 99 Antologi Perempuan (BintangVisitama,
2016), Bunga Abadi (Rumah kayu,
2016), Indonesia (Nahima Press,
2016).
Artikelku
“Hebohnya Ultah Ainun” dimuat di Koran Tribun Timur (2009), dan artikelku “Masa
Depan Kita Bukanlah Untuk Menjadi Robot Canggih” dimuat di Devils Of Death (salah satu media online sastra).
Prestasiku
antara lain Juara Hiburan Lomba Menulis “Pengalamanku Bersama Scots Emulsion”
(2011), Juara Hiburan Lomba Mewarnai Permen Allpeliebe
(2011), Peringkat II Penamatan SD Negeri Kompleks IKIP 1 Makassar (2014),
Juara Harapan III Lomba Menulis Surat Untuk Walikota Makassar (2015), Peringkat I kelas VII SMP Negeri 8
Makassar (2015), Siswa Berprestasi kelas VIII SMP Negeri 8 Makassar (2016).

