Puisi I
KETIKA TUBUHMU MAWAR
ketika tubuhmu mawar
aku duri di seluruh rantingnya
ketika tubuhmu laut
aku karang di sepanjang selat dan teluk
ketika hatimu pualam
aku rongga yang melindunginya
ketika darahmu sehangat cintaku
aku penyair yang menuliskan darahnya
jadi puisi abadi
ou, darah cintaku yang menyala
kalau api tengah menyala pada tulang tubuhmu
yang mawar kemudian
menjadi bara
dan kemudian menjadi abu
aku hanya akan berbicara dengan abu
hanya dengan abu!
Cilacap, 29 Maret 2016
(Puisi ini menjadi juara satu lomba menulis puisi nasional sabana
pustaka tahun 2016)
Puisi II
BANDARA MENAWARKAN
DEBAR
bandara selalu saja menawarkan debar yang berbeda
; keberangkatan kedatangan serupa kegelisahan
berhari-hari bertahun-tahun
matahari tak sempurna dalam ingatanmu
tak sempurna mengemas pagi dan senjamu
dan orang-orang bepergian
orang-orang berdatangan
atas nama kepentingan dan kesetiaan
: terbanglah, mendaratlah
waktu mematangkan usia
puisi menggenapkan cemburu dan cinta!
di ruang tunggu 2-f bandara soeta
koper dan tas ransel menyembunyikan pakaian
rahasia berkas, beberapa lembar puisi
yang tak pernah sudah
tubuhku jengah
bangku-bangku gelisah
sepotong kisah jingga mengapung
keberangkatan penuh isak tangis
: suara-suara dari mikrofon silih berganti
“perhatian,
perhatian, penerbangan g.a.162
silakan masuk lewat pintu dua”
“dan enyahkan sunyimu!”
bandara minangkabau, hai, aku datang
membawa satu ransel puisi!
di bandara minangkabau segalanya bergeser dan berubah
dari jadual keberangkatanjuga keriangan yang
tinggal rasa lelah dan jengah
: aku merasakan ada banyak yang berat kutinggalkan
kenangan dan harapan.
Jakarta/Padang, 6-15Maret 2016
Puisi III
REMBULAN MENGAPUNG DI ATAS BUKIT
entah siapa; sepertinya aku pernah
melihat-- di tempat yang jauh
jauh sekali; sepertinya berkebaya
warna melati
tetapi tidak; ia mengenakan gamis
putih tulang
bersiap memasuki rumah yang lama
sekali ditinggalkannya
rumah yang nyaris penuh debu
aku ingin mendoakannya dengan tulus
andai ia benar kemudian masuk ke
dalam rumah itu
: kebahagiaanlah yang ada di hatinya,
selamanya
hujan badai di luar biarkanlah
gelombang ombak menggila, jinakkanlah
bukankah rumah jiwa seseorang bisa
serupa laut?
di setiap pertemuan senja dengan
malam
perempuan itu menyelinap di rimbun
edelweis
kedua tangannya mendekap batu sunyi
di dada
: berjalan terhuyung ke utara-- menuruni lembah
seperti bidadari ia melayang-- terjun ke dalam telaga
rembulan mengapung di atas bukit
menyaksikan dengan sukacita!
Cirebah, 26
Mei 2016
Biodata
Eddy Pranata PNP, sekarang
tinggal di Cirebah --sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa
Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Sehari-hari beraktivitas di
Disnav Ditjenhubla di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.
Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997),
Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku
Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016). Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Riau Pos,
Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Radar Surbaya, Riau Realia, Flores Sastra,
Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain. Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991),
Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi
Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999),
Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri
Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang
Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah
Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Bila Tubuhmu Menjadi Mawar (2016), Memo
Anti Terorime (2016), dan lain-lain.

