Pages

Ads 468x60px

Jumat, 02 September 2016

PUISI EDDY PRANATA PNP: REMBULAN YANG MAWAR

Puisi I
KETIKA TUBUHMU MAWAR

ketika tubuhmu mawar
aku duri di seluruh rantingnya
ketika tubuhmu laut
aku karang di sepanjang selat dan teluk
ketika hatimu pualam
aku rongga yang melindunginya
ketika darahmu sehangat cintaku
aku penyair yang menuliskan darahnya
jadi puisi abadi

ou, darah cintaku yang menyala

kalau api tengah menyala pada tulang tubuhmu
yang mawar kemudian menjadi bara
dan kemudian menjadi abu
aku hanya akan berbicara dengan abu
hanya dengan abu!


Cilacap, 29 Maret 2016

(Puisi ini menjadi juara satu lomba menulis puisi nasional sabana pustaka tahun 2016)




Puisi II
BANDARA MENAWARKAN DEBAR

bandara selalu saja menawarkan debar yang berbeda
; keberangkatan kedatangan serupa kegelisahan
berhari-hari bertahun-tahun
matahari tak sempurna dalam ingatanmu
tak sempurna mengemas pagi dan senjamu
dan orang-orang bepergian
orang-orang berdatangan
atas nama kepentingan dan kesetiaan
: terbanglah, mendaratlah
waktu mematangkan usia
puisi menggenapkan cemburu dan cinta!

di ruang tunggu 2-f bandara soeta
koper dan tas ransel menyembunyikan pakaian
rahasia berkas, beberapa lembar puisi
yang tak pernah sudah
tubuhku jengah
bangku-bangku gelisah
sepotong kisah jingga mengapung
keberangkatan penuh isak tangis
: suara-suara dari mikrofon silih berganti
  “perhatian, perhatian, penerbangan g.a.162
silakan masuk lewat pintu dua”

dan enyahkan sunyimu!

bandara minangkabau, hai, aku datang
membawa satu ransel puisi!

di bandara minangkabau segalanya bergeser dan berubah
dari jadual keberangkatanjuga keriangan yang
tinggal rasa lelah dan jengah
: aku merasakan ada banyak yang berat kutinggalkan
kenangan dan harapan.


Jakarta/Padang, 6-15Maret 2016




Puisi III
REMBULAN MENGAPUNG DI ATAS BUKIT

entah siapa; sepertinya aku pernah melihat-- di tempat yang jauh
jauh sekali; sepertinya berkebaya warna melati
tetapi tidak; ia mengenakan gamis putih tulang
bersiap memasuki rumah yang lama sekali ditinggalkannya
rumah yang nyaris penuh debu
aku ingin mendoakannya dengan tulus
andai ia benar kemudian masuk ke dalam rumah itu
: kebahagiaanlah yang ada di hatinya, selamanya
hujan badai di luar biarkanlah
gelombang ombak menggila, jinakkanlah

bukankah rumah jiwa seseorang bisa serupa laut?

di setiap pertemuan senja dengan malam
perempuan itu menyelinap di rimbun edelweis
kedua tangannya mendekap batu sunyi di dada
: berjalan terhuyung ke utara-- menuruni lembah
seperti bidadari ia melayang-- terjun ke dalam telaga

rembulan mengapung di atas bukit
menyaksikan dengan sukacita!
                                                                                                        
Cirebah26 Mei 2016




Biodata

Eddy Pranata PNP,  sekarang  tinggal di Cirebah --sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat.  Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla di  Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya:  Improvisasi Sunyi (1997),  Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015)Ombak Menjilat Runcing Karang (2016). Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Riau Pos,  Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Radar Surbaya, Riau Realia, Flores Sastra, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain. Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991),  Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996),  Antologi Puisi Indonesia (1997),  Puisi Sumatera Barat (1999),  Pinangan (2012),  Akulah Musi (2012),  Negeri Langit (2014),  Bersepeda ke Bulan (2014),  Sang Peneroka (2014),  Metamorfosis (2014),  Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015),  Negeri Laut (2015)Palagan Sastra (2016),  Bila Tubuhmu Menjadi Mawar (2016),  Memo Anti Terorime (2016),  dan lain-lain.





Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter