Aku harus menyiapkan waktu lebih lama
untuk menunggu lelaki yang bernama Ayah. Kalau pun beliau sengaja mengulur
waktu bertemu denganku, aku tetap akan menyediakan waktu yang banyak untuknya.
Ayah adalah orang yang istimewa bagiku. Demi sebuah nama juga sosok aslinya,
aku harus menunggu sekian tahun. Ibu orang pertama yang menutupi semua ini.
Tempat ini menjadi sangat gerah bagiku.
Hampir saja aku memesan lagi segelas jus jika tak ingat kalau selesai bicara
dengan Ayah, aku ingin sekali makan bersamanya. Untuk pertama kali, kalau bisa
tetap ada kesempatan untuk selanjutnya.
“Ayah gimana orangnya? Asyik diajak
ngobrol?”
Sebuah pesan masuk lewat massanger. Dia
yang bertanya namanya Beni, tunanganku. Karena soal ini pula aku bersikeras
untuk bertemu dengan Ayah. Dua bulan lagi kami akan segera menikah dan aku
ingin Ayah yang menjadi wali nikah. Ini kewajiban beliau.
“Belum ketemu. Sabar ya. Nanti aku
pasti cerita jika semua sudah beres.”
Harusnya satu jam yang lalu Ayah sudah
tiba di tempat ini. Apakah kesibukan telah menyita perhatiannya? Apakah tak ada rindu yang menyiksa batinnya,
sedang menurut Ibu kami terakhir bertemu ketika aku masuk TK.
Sekali lagi kukirim pesan ke BBM Ayah,
menanyakan sudah sampai di mana. Sayangnya cuma di-read saja. Menghubungi langsung juga selalu ditolak. Aku tetap
berusaha berpikir positif, bisa jadi demi konsentrasi dalam berkendara Ayah
melakukan itu.
Kata Ibu, lelaki yang kunanti ini
berwajah tampan. Itu sebabnya wajahku juga cantik karena
cerminan beliau. Pemuda tampan itu juga cerdas sehingga berhasil menaklukkan
hati Ibu. Aku lalu membayangkan bagaimana kisah cinta masa jadul itu. Pasti
lucu sekali, sebab jaman dahulu belum ada media sosial untuk update model
fashion. Rambut keriting gondrong juga baju kemeja lipat lengan. Ibu dengan
rambut kepang dua dengan model baju Siti Nurbaya.
Beberapa kali lamunan tentang Ayah
terpaksa buyar oleh pengunjung kafe. Ciri fisik yang mirip membuatku berulang kali
deg-degan. Mengatur napas juga rasa grogi. Mirip sekali saat kemarin menerima
lamaran Beni.
Yang menjadi ganjalan dalam hati adalah
apa penyebab sebenarnya perpisahan kedua orang tuaku? Jika benar Ayah orang
baik, lantas suatu kemustahilan jika mereka bercerai. Nenek juga tak pernah mau
berbagi kisah tentang itu, apalagi Kakek yang terlihat begitu benci.
Aku membenci sebuah rahasia. Itulah
sebabnya aku mendesak Ibu untuk berkata jujur. Sedikit alasan yang masuk akal,
jika mereka berpisah karena orang ketiga. Ayah selingkuh? Bisa jadi.
“Kami pernah berjanji jika salah
satunya berkhianat maka pernikahan harus diakhiri.”
Semudah itukah memutuskan perceraian? Aku
melihat ada banyak kasus serupa namun bisa terselamatkan dari kata cerai karena
keduanya saling introspeksi diri. Lain waktu aku bertanya lagi, dan jawaban
berbeda aku terima. Ibu tak ingin mengingat masa lalu.
Sampai pada beberapa waktu lalu saat
pernikahan semakin dekat. Aku ingin Ayah tahu tentang kabar gembira ini juga
menuntaskan tanggung jawab sebagai wali.
Entah kasihan atau apa, Ibu menunjukkan
seseorang yang tak lain teman baik mereka. Jika aku tetap ingin bertemu dengan
Ayah, temui wanita bernama Nur. Tak butuh proses yang njlimet sebab aku langsung bercerita pokok masalah. Bibi Nur
memberikan semua kontak tentang Ayah. Aku terhubung dengan lelaki yang menjadikan
aku ada di dunia ini. Aku buah hatinya.
Sebentar lagi malam menjelang. Beberapa
lampu kafe telah menyala. Aku menyaksikan mungkin tanpa sadar telah menghitung
pergantian jumlah pengunjung tempat ini. Orang yang kunanti tak juga tiba.
Selelah inikah perasaan Ibu?
Sebuah pesan panjang masuk lewat
massanger.
Anakku
Riana. Sejak pertama kali kau memanggil dengan sebutan Ayah, saat itu pula aku
merasa dunia seakan membahagiakan secara berlebihan. Kau sosok yang kunanti
tiap waktu bahkan aku menghabiskan waktu hanya untuk menantimu.
Nak,
kuharap kau tidak kecewa atas apa yang tertulis dalam pesan ini. Saat kau
meminta aku untuk menjadi wali nikah, sungguh aku merasa tak pantas jika kau
menyebut panggilan Ayah lagi. Aku lelaki kotor yang tidak perlu kau kenal lagi.
Kata
orang kau sangat cantik. Aku mungkin hanya mengingat wajahmu saat berusia lima
tahun. Aku terpaksa meninggalkan kalian, Nak.
Ibumu benar, ada wanita lain yang hadir dalam hidup kami. Aku telah
menjelma menjadi seorang pengkhianatan, padahal Ibumu sudah banyak berkorban
untukku.
Sepertinya benda mungil yang menangkap
pesan itu harus aku singkirkan. Aku berusaha keras menahan butiran yang memaksa
keluar dari kelopak mata. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku mungkin mulai
menyesali. Benar kata Ibu, aku pasti sedih dan terluka jika terus memaksa untuk
memintanya menjadi wali. Terjawab sudah lewat bait terakhir pesan itu.
Kau
memang anakku, tapi kau ada dalam kandungan sebelum pernikahan kami terjadi.
Jadi kau tetap boleh memanggil Ayah tapi aku tak punya kuasa untuk
menikahkanmu.
Inikah jawaban atas ejekan beberapa
teman yang menyebutku anak haram? Aku harus segera pulang. Menata hati yang
nyaris berantakan. Kuharap penghuni kafe tak tahu, meski sedari tadi seorang
lelaki memperhatikan aku lewat pandangan matanya yang mengintip dari balik
cangkir kopi.
Biodata
Mawar Dani,
pegiat tulis asal KUA BP Mandoge --
Jl. Perintis kemerdekaan desa BP Mandoge Asahan - 21262. Akun FB : Mawar Dani
