Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 03 September 2016

CERPEN MAWAR DANI: AYAH DAN LELAKI DI BALIK CANGKIR


Aku harus menyiapkan waktu lebih lama untuk menunggu lelaki yang bernama Ayah. Kalau pun beliau sengaja mengulur waktu bertemu denganku, aku tetap akan menyediakan waktu yang banyak untuknya. Ayah adalah orang yang istimewa bagiku. Demi sebuah nama juga sosok aslinya, aku harus menunggu sekian tahun. Ibu orang pertama yang menutupi semua ini.
Tempat ini menjadi sangat gerah bagiku. Hampir saja aku memesan lagi segelas jus jika tak ingat kalau selesai bicara dengan Ayah, aku ingin sekali makan bersamanya. Untuk pertama kali, kalau bisa tetap ada kesempatan untuk selanjutnya.
“Ayah gimana orangnya? Asyik diajak ngobrol?”
Sebuah pesan masuk lewat massanger. Dia yang bertanya namanya Beni, tunanganku. Karena soal ini pula aku bersikeras untuk bertemu dengan Ayah. Dua bulan lagi kami akan segera menikah dan aku ingin Ayah yang menjadi wali nikah. Ini kewajiban beliau.
“Belum ketemu. Sabar ya. Nanti aku pasti cerita jika semua sudah beres.”
Harusnya satu jam yang lalu Ayah sudah tiba di tempat ini. Apakah kesibukan telah menyita perhatiannya?  Apakah tak ada rindu yang menyiksa batinnya, sedang menurut Ibu kami terakhir bertemu ketika aku masuk TK.
Sekali lagi kukirim pesan ke BBM Ayah, menanyakan sudah sampai di mana. Sayangnya cuma di-read saja. Menghubungi langsung juga selalu ditolak. Aku tetap berusaha berpikir positif, bisa jadi demi konsentrasi dalam berkendara Ayah melakukan itu.
Kata Ibu, lelaki yang kunanti ini berwajah tampan. Itu sebabnya wajahku juga cantik karena cerminan beliau. Pemuda tampan itu juga cerdas sehingga berhasil menaklukkan hati Ibu. Aku lalu membayangkan bagaimana kisah cinta masa jadul itu. Pasti lucu sekali, sebab jaman dahulu belum ada media sosial untuk update model fashion. Rambut keriting gondrong juga baju kemeja lipat lengan. Ibu dengan rambut kepang dua dengan model baju Siti Nurbaya.
Beberapa kali lamunan tentang Ayah terpaksa buyar oleh pengunjung kafe. Ciri fisik yang mirip membuatku berulang kali deg-degan. Mengatur napas juga rasa grogi. Mirip sekali saat kemarin menerima lamaran Beni.
Yang menjadi ganjalan dalam hati adalah apa penyebab sebenarnya perpisahan kedua orang tuaku? Jika benar Ayah orang baik, lantas suatu kemustahilan jika mereka bercerai. Nenek juga tak pernah mau berbagi kisah tentang itu, apalagi Kakek yang terlihat begitu benci.
Aku membenci sebuah rahasia. Itulah sebabnya aku mendesak Ibu untuk berkata jujur. Sedikit alasan yang masuk akal, jika mereka berpisah karena orang ketiga. Ayah selingkuh? Bisa jadi.
“Kami pernah berjanji jika salah satunya berkhianat maka pernikahan harus diakhiri.”
Semudah itukah memutuskan perceraian? Aku melihat ada banyak kasus serupa namun bisa terselamatkan dari kata cerai karena keduanya saling introspeksi diri. Lain waktu aku bertanya lagi, dan jawaban berbeda aku terima. Ibu tak ingin mengingat masa lalu.
Sampai pada beberapa waktu lalu saat pernikahan semakin dekat. Aku ingin Ayah tahu tentang kabar gembira ini juga menuntaskan tanggung jawab sebagai wali.
Entah kasihan atau apa, Ibu menunjukkan seseorang yang tak lain teman baik mereka. Jika aku tetap ingin bertemu dengan Ayah, temui wanita bernama Nur. Tak butuh proses yang njlimet sebab aku langsung bercerita pokok masalah. Bibi Nur memberikan semua kontak tentang Ayah. Aku terhubung dengan lelaki yang menjadikan aku ada di dunia ini. Aku buah hatinya.
Sebentar lagi malam menjelang. Beberapa lampu kafe telah menyala. Aku menyaksikan mungkin tanpa sadar telah menghitung pergantian jumlah pengunjung tempat ini. Orang yang kunanti tak juga tiba. Selelah inikah perasaan Ibu?
Sebuah pesan panjang masuk lewat massanger.
Anakku Riana. Sejak pertama kali kau memanggil dengan sebutan Ayah, saat itu pula aku merasa dunia seakan membahagiakan secara berlebihan. Kau sosok yang kunanti tiap waktu bahkan aku menghabiskan waktu hanya untuk menantimu.
Nak, kuharap kau tidak kecewa atas apa yang tertulis dalam pesan ini. Saat kau meminta aku untuk menjadi wali nikah, sungguh aku merasa tak pantas jika kau menyebut panggilan Ayah lagi. Aku lelaki kotor yang tidak perlu kau kenal lagi.
Kata orang kau sangat cantik. Aku mungkin hanya mengingat wajahmu saat berusia lima tahun. Aku terpaksa meninggalkan kalian, Nak.  Ibumu benar, ada wanita lain yang hadir dalam hidup kami. Aku telah menjelma menjadi seorang pengkhianatan, padahal Ibumu sudah banyak berkorban untukku.
Sepertinya benda mungil yang menangkap pesan itu harus aku singkirkan. Aku berusaha keras menahan butiran yang memaksa keluar dari kelopak mata. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku mungkin mulai menyesali. Benar kata Ibu, aku pasti sedih dan terluka jika terus memaksa untuk memintanya menjadi wali. Terjawab sudah lewat bait terakhir pesan itu.
Kau memang anakku, tapi kau ada dalam kandungan sebelum pernikahan kami terjadi. Jadi kau tetap boleh memanggil Ayah tapi aku tak punya kuasa untuk menikahkanmu.
Inikah jawaban atas ejekan beberapa teman yang menyebutku anak haram? Aku harus segera pulang. Menata hati yang nyaris berantakan. Kuharap penghuni kafe tak tahu, meski sedari tadi seorang lelaki memperhatikan aku lewat pandangan matanya yang mengintip dari balik cangkir kopi.


Biodata
Mawar Dani, pegiat tulis asal KUA BP Mandoge -- Jl. Perintis kemerdekaan desa BP Mandoge Asahan - 21262. Akun FB : Mawar Dani



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter