Mukidi lapar. Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan
ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja
Mukidi hendak memegangnya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.
"Maaf mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak
pelanggan yang disana", kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan
kekar dan berwajah preman.
Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa
ayam goreng itu adalah haknya. Pria bertampang preman itu segera menghampiri
meja Mukidi dan menggertaknya.
"Awas kalau kamu berani menyentuh ayam itu!!! Apapun yang
kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong
kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus
lehermu!!!"
Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis
sambil berkata, "Silahkan!
siapa takut?"
Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat
pantatnya... Hahahaha...
Begitulah sebuah cerita humor yang saya baca dari WhatsApp di
perangkat gawai saya. Ada nama yang menarik perhatian dari cerita itu, yaitu
“Mukidi”. Dari Google, saya menemukan 468.000 lema memuat kata itu sejak
2009. Hampir seluruhnya merujuk dengan kata “Mukidi’ yang dalam
cerita-cerita lucunya yang beredar di dunia maya itu. Hanya sedikit terkait
dengan nama yang kebetulan sama dengan “Mukidi. Siapakah “Mukidi’ yang menjadi
viral para netizen seminggu ini.
Mukidi adalah tokoh lama yang baru meledak di dunia humor. Tokoh
fiktif ini menjadi kunci kelucuan dalam cerita. Dalam riwayatnya Mukidi berasal
dari Cilacap. Sementara pencipta tokoh Mukidi, Soesantyo Moechlas, yang awalnya
membawakan cerita ini sebagai acara di radio, adalah warga Banyumas. Mukidi
tipe orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa pun.
Mukidi punya istri bernama Markonah, dan dua anak yang bernama Mukirin dan
Mukiran, serta bersahabat dengan Wakijan.
Membaca cerita Mukidi memang membuat kita tertawa lebar. Mirip
seperti cerita humor yang didapatkan dari buku TTS . Walaupun sama menimbulkan
kelucuan, gaya bercerita Mukidi berbeda dengan tokoh Palui-nya Yustan Adzidin
dan Undas-nya Muhammad Idris, dari Banua, bahkan cerita Kabayan dari Sunda dan
Abunawas dari Bagdad. Cerita Mukidi dibangun dari dialog-dialog pendek
sedangkan keempat tokoh tersebut disajikan dalam bentuk narasi, ada deskripsi
dan dialog.
Profil Mukidi sama dengan Palui, bisa sebagai apa saja: rakyat
biasa, pegawai, pelajar, remaja, bahkan seorang suami, tetapi tidak seperti
Undas yang lebih banyak sebagai pegawai. Ketiganya ada kesamaan sifat yaitu
terkadang cerdik, bijaksana, tangkas, dan bisa lugu. Namun, bukan bodoh-bodoh
pintar seperti Kabayan dan tipu tipu seperi Abu Nawas. Kelebihan Mukidi bisa
sebagai orang dari suku mana pun. Dan satu lagi : kepandaiannya ‘ngeles’ alias
pandai menghindar atau menampik tetapi berkata dan bertindak tepat.
Indonesia gudangnya orang kreatif. Para kreator itu bisa
menciptakan tokoh dengan sifat dan nama apa saja. Terkadang tokoh dihadirkan
sebagai reaksi atas suatu kondisi. Tokoh “Si Boy” ciptaan Radio Prambors akhir
tahun 80-an adalah kerinduan sosok anak muda yang ganteng, gagah, pintar, kaya,
dan suka salat. “Lupus’ oleh Hilman Hariwijaya mewakili remaja yang norak,
pintar, tetapi penyayang keluarga. Tokoh “Bento’ yang diciptakan grup musik
Swami dan “Pak Tua’ oleh El Pamas, konon diciptakan sebagai satire
penguasa Orde Baru saat itu.
Mukidi dan humornya hadir tepat di tengah kejenuhan bangsa ini
akan perilaku menggelikan tokoh-tokoh yang hilir mudik di media massa. Dari
pemerintah, aparat hukum, politikus, sampai selebriti yang masih suka ‘ngeles’
walaupun tampak jelas kelakuan ganjilnya. Begitu juga dari masalah ekonomi,
kewarganegaraan, kriminalitas, sampai produk palsu masih diulur ulur
penyelesaiannya untuk lama-lama terlupakan. Ya, humor memang bisa membuat kita
sejenak melupakan semua. Dan Mukidi mengajak kita mentertawakan diri sendiri. [Zulfaisal Putera]
