Hujan masih belum reda. Kami
sebagai anak-anak dilarang oleh orangtua kami untuk keluar dari rumah apalagi
bermain di tanah lapang. Kami hanya diperbolehkan bermain di rumah saja. Lebih
tepatnya di dalam rumah bukan di teras. Walaupun hal itu sangat membosankan bagi
kami. Tapi sebagai anak, kami bisa apa?
“Kau tidak usah keluar
dulu! Jika kau mau main, main sajalah di dalam rumah. Kalau perlu kau ajak main
saja Ihsan, adikmu itu. Siapa tahu dia senang diajak main sama kau,” ucap Emak saat
mata kecilku mengarah ke luar rumah.
Saat itu aku di dekat tingkap1. Mata kecilku masih
menerawang ke luar rumah.
“Ah, aku tidak mau, Mak! Kadang Ihsan selalu mau menang sendiri
kalau sudah bermain apapun denganku,” jawabku.
“Ya, sudah kalau kau
tidak mau! Tapi, Emak pesan jangan keluar rumah dulu sebelum hujan disertai
panas itu berlalu. Camkan ucapan Emak ini jika kau ingin menjadi anak berbudi,”
Emak kembali menegaskanku.
Aku hanya mematung. Kembali mataku mengarah ke luar rumah.
Lama menunggu hujan itu berlalu
tiba-tiba mulutku menguap besar. Rasa kantuk mulai menggelayuti di pelupuk
mataku. Tanpa kusadari aku tertidur di kerosi2
di ruang tamu. Akhirnya, aku melupakan untuk bermain hari itu.
*
* *
Esokannya di sekolah, saat
itu kelasku begitu riuh sekali. Aku yang baru tiba menjadi penasaran.
Ada apa ramai-ramai saat itu?
“Fik, ada apa memangnya?
Tidak sepertinya kelas kita riuh begini?” tanyaku pada Rofik, teman sebangku
yang usai membicarakan suatu perihal.
“Ayib hilang kemarin,
Lus! Sampai sekarang belum ditemukan,” jawab Rofik.
“Kamu tahu dari mana?”
tanyaku penasaran.
Belum habis Rofik
menggenapi rasa penasaranku tiba-tiba Bu Fulana, wali kelasku masuk ke kelas.
Aku pun langsung saja berhamburan bersama dengan yang lainnya. Kami duduk pada
tempatnya masing-masing.
“Ada Bu Fulana… Ada Bu
Fulana…. Ayo, semua duduk, bersiap!” suara Amri, ketua kelasku langsung memberi
komando. Jam pelajaran sudah masuk. Aku gagal mendapatkan penjelasan dari Rofik.
“Ah, nanti saja saat jam istirahat aku tanya lagi,” gumamku.
Semua seisi kelas pun
sudah duduk rapi. Pelajaran segera dimulai.
Tapi ternyata tidak!
Kami hari itu tidak belajar. Kami sekelas dipulangkan lebih cepat dari
biasanya. Karena Bu Fulana memberitahukan kabar yang menyedihkan untuk kami. Kabar
yang membuat kami merasa kehilangan teman kelas kami.
“Hari ini Ibu sengaja
memulangkan kalian cepat agar kalian bisa pulang lebih awal. Karena saat ini
cuaca sedang tidak menentu. Terlebih saat hujan disertai panas turun, Ibu harap
kalian tidak berada di luar rumah apalagi bermain. Kita baru saja kehilangan Ayib,
teman sekelas kalian yang sampai saat ini belum ditemukan. Emak Ayib bilang
Ayib hilang saat pulang maen bal2
bersama teman-temannya saat hujan disertai panas turun. Jadi, kalian harus
langsung pulang ke rumah masing-masing sebelum hujan seperti kemarin turun.
Kalian semua paham!”
“Paham, Bu!” koor kami
serempak.
Akhirnya kami pun
meninggalkan kelas masing-masing. Aku dan Rofik masih di dalam kelas. Aku ingin
tahu kenapa Ayib bisa hilang. Aku makin penasaran.
Aku memutuskan untuk
pulang berbarengan dengan Rofik. Aku ingin menggali lebih dalam tentang
hilangnya Ayib padanya.
Bujuk-rayu kukerahkan pada
Rofik. Jika ia mau menerangkan semua yang terjadi di dalam kelas tadi, ia akan
kubonceng ketimbang berjalan kaki. Akhirnya aku pun nggonceng3 Rofik pulang bersamaku. Walau kami bertempat
tinggal berbeda.
“Bagaimana Ayib bisa
hilang?” tanyaku pada Rofik sambil menggoes man
alek4.
“Tadi Emak Ayib datang
ke sekolah. Ia memberitahukan kalau Ayib hilang saat maen bal. Padahal Emak Ayib sudah melarang Ayib untuk keluar rumah
jika hujan disertai panas turun. Tapi, Ayib tidak mau mendengkarkan ucapan Emaknya
itu.”
“Lalu, apa hubungannya
dengan hujan itu?” Aku semakin penasaran dibuatnya.
“Kata orangtua dulu, kita
dilarang keluar rumah apalagi bermain di tanah lapang saat usai hujan disertai panas
tiba. Jika kita masih keluar rumah dan bermain. Itu kesempatan bagi Hantu Jaring5 menculik lalu
menyembunyikan kita, tanpa seorang pun bisa melihat kita saat disembunyikan.”
Rofik menjelaskan padaku bak seorang pendongeng yang sudah lihai. Ia begitu
apik menceritakan semua yang terjadi pada Ayib. Cukup prihatin sekaligus bangar6 bagi kami yang
masih anak-anak.
Tidak terasa kami pun
sampai di rumah Rofik. Aku menurunkan Rofik tepat di pekarangangan rumahnya.
Sedangkan aku kembali mengayuh man alek
menuju rumahku. Bersyukur saat aku tiba di rumah, hujan seperti kemarin baru turun.
Aku jadi tidak menunggu dulu di sekolah seperti perintah Emak.
Setiba di rumah aku pun
langsung melepaskan seragam sekolah lalu menemui Emak. Ternyata Emak sedang
meninabobokan Ihsan di kamar. Kuhampiri Emak untuk bertanya perihal Hantu
Jaring yang diceritakan Rofik tadi. Emak pasti tahu lebih banyak tentang hantu
itu. Kan Emak sudah tinggal lama di kampung ini.
“Ada apa, Lus?” tanya
Emak saat aku menghampirinya. “Tidak biasanya kau menghampiri Emak usai pulang
sekolah.”
Aku menuntun Emak dari
kamar menuju ruang tamu, karena aku takut mengganggu Ihsan yang telelap7. Aku ingin menghapus
rasa penasaranku mengenai hantu itu.
Sekarang aku sudah di
hadapan Emak. Kuceritakan semua apa yang terjadi di sekolah tadi sekaligus rasa
penasaranku tentang hantu itu. Semoga saja aku bisa mendapatkannya dari Emak.
“Emak tahu Hantu Jaring?”
tanyaku.
Emak kulihat langsung
tertegun.
Aku jadi serba salah.
Apakah pertanyaanku terlalu mengada-ada atau hanya gurauan belaka. Entahlah.
Kuharap Emak mau berbagi cerita padaku perihal hantu itu. Karena aku ingin
segera mengetahuinya.
* * *
“Jangan lupa kau bawa
ini!” pesan Emak memberikan padaku sebatang rumput sebelum berangkat sekolah.
“Ingat kalau nanti hujan
disertai panas kembali turun, kau selipkan ramput ini di daun telinga kau itu. Ini
agar kau terhindar dan selamat dari Hantu Jaring yang selalu menyembunyikan
anak-anak seusia kau. Saat usai hujan seperti itu biasanya ia keluar,” lanjut Emak
memberitahukan.
Aku diam saja. Aku
melongo saat Emak menjelaskan kegunaan tumbuhan perdu itu.
Walau agak berat hati,
kusimpan sebatang rumput itu di saku celana seragamku. Apalagi aku anak
laki-laki jika ketahuan membawanya bisa-bisa menjadi bahan tertawaan
teman-teman sekelas. Tapi sudahlah, ini juga untuk kebaikanku pula.
“Iya, Mak! Lus berangkat
sekolah dulu ya. Assalamualaikum….”
Aku pun menuju sekolah
dengan menahan rasa geli di pahaku, karena tergesek-gesek rumput itu saat aku mengayuh
man alek.
Sesampai di sekolah aku
melihat Bu Fulana membawa banyak batang rumput di dalam plastik yang tembus
pandang oleh mataku. Cukup banyak saat itu—yang dibawa wali kelasku dan sama
persis dengan aku bawa. Walaupun aku menaruhnya di saku celanaku.
“Untuk apa Bu Fulana membawanya?” pikirku sedikit heran.
Akhirnya Bu Fulana masuk
ke dalam kelas. Tepat jam pelajaran sekolah dimulai. Aku sudah duduk tenang
bersama Rofik. Amri, ketua kelas pun sudah memberikan aba-aba untuk bersiap dan
memberi selamat pagi pada guru kami itu.
“Anak-anak sebelum Ibu memulai
pelajaran hari ini tentang macam-macam majas dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Ibu terlebih dulu akan membagikan sesuatu pada kalian,” Bu Fulana mengawali
ucapannya pagi itu di kelas.
Kami saling adu pandang.
Saling bertanya-tanya apakah yang akan diberikan Bu Fulana di dalam kelas kami?
Kami penasaran.
Ternyata Bu Fulana
mengeluarkan banyak tumbuhan perdu dari dalam plastik. Ia membawanya untuk dibagikan
pada kami. Walaupun kami masih bingung dan heran. Kenapa ia membagikannya itu
pada kami, anak didiknya.
“Fik, kau bengong saja
dari tadi aku lihat?” tanyaku sambil menyikut perut Rofik.
Auw…kulihat ia kesakitan. Karena aku mendadak mengagetkannya.
“Sakit tahu!” seru
Rofik.
“Terus, kenapa kamu
bengong begitu?” lanjutku.
“Aku heran, Lus, apa
yang dibagikan Bu Fulana itu sama dengan yang aku bawa ini,” kata Rofik sambil
menunjukkan tumbuhan perdu itu di tangannya. “Ini dari Emakku. Katanya, aku
harus bawa dan dipakai di telinga jika nanti hujan disertai panas tiba. Kalau
tidak aku akan dibawa Hantu Jaring lalu disembunyikan.”
Setali tiga uang. Aku
pun langsung menunjukkan apa yang kubawa atas perintah Emak tadi.
Kami kembali saling adu
pandang. Ternyata apa yang aku bawa dengan Rofik jelas-jelas sama dengan apa
yang dibagikan Bu Fulana saat ini. Entah, apakah kegunaannya sama seperti dikatakan
Emak sebelum aku berangkat sekolah. Kalau sebatang rumput bisa menyelamatkan
diri dari segala ganguan Hantu Jaring. Entahlah. Seperti saat ini yang
dibagikan Bu Fulana saat itu. Jika wali kelasku percaya juga kalau tumbuhan perdu
itu bisa menghalau hantu itu.
Lalu hilangnya Ayib
apakah karena ia tidak membawa tumbuhan perdu itu? Atau, tidak menyelipkan
sebatang rumput di daun telinganya saat bermain? Entahlah. Bagiku semoga saja Ayib
segera ditemukan kembali dan bisa bercengkrama bersama-sama kami lagi di kelas.
Karena kami sangat menantikan Ayib kembali ke sekolah.
Catatan :
1. Tingkap : Jendela
2. Main bal : Main bola
3. Nggonceng : Membonceng
4. Man alek : Sepeda ontel
5. Hantu Jaring :
Hantu ini muncul
pada saat hujan panas dan suka dengan anak-anak dengan cara menyembunyikannya.
Hantu dipercayakan oleh penduduk di Kalimantan Barat (Pontianak). Hantu ini
biasanya akan muncul di belakang rumah, sawah, maupun lapangan yang biasanya
menjadi kegemaran anak kecil untuk bermain-main pada saat hujan panas. Cara
untuk menghindari hantu ini dengan cara menyisipkan sebatang rumput atau
sehelai daun yang disematkan pada daun telinga.
6. Bangar : Seram
7. Telelap : Tertidur
BIODATA
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan
bergiat di komunitas Pembatas Buku Jakata. Sekarang berdomisili di Jakarta.
Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal
dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak,
artikel/opini dan puisi.
