Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 20 Agustus 2016

CERPEN KAK IAN: HANTU JARING


Hujan masih belum reda. Kami sebagai anak-anak dilarang oleh orangtua kami untuk keluar dari rumah apalagi bermain di tanah lapang. Kami hanya diperbolehkan bermain di rumah saja. Lebih tepatnya di dalam rumah bukan di teras. Walaupun hal itu sangat membosankan bagi kami. Tapi sebagai anak, kami bisa apa?

“Kau tidak usah keluar dulu! Jika kau mau main, main sajalah di dalam rumah. Kalau perlu kau ajak main saja Ihsan, adikmu itu. Siapa tahu dia senang diajak main sama kau,” ucap Emak saat mata kecilku mengarah ke luar rumah.
Saat itu aku di dekat tingkap1. Mata kecilku masih menerawang ke luar rumah.
Ah, aku tidak mau, Mak! Kadang Ihsan selalu mau menang sendiri kalau sudah bermain apapun denganku,” jawabku.
“Ya, sudah kalau kau tidak mau! Tapi, Emak pesan jangan keluar rumah dulu sebelum hujan disertai panas itu berlalu. Camkan ucapan Emak ini jika kau ingin menjadi anak berbudi,” Emak kembali menegaskanku.
Aku hanya mematung.  Kembali mataku mengarah ke luar rumah.
Lama menunggu hujan itu berlalu tiba-tiba mulutku menguap besar. Rasa kantuk mulai menggelayuti di pelupuk mataku. Tanpa kusadari aku tertidur di kerosi2 di ruang tamu. Akhirnya, aku melupakan untuk bermain hari itu.
* * *
Esokannya di sekolah,  saat  itu kelasku begitu riuh sekali. Aku yang baru tiba menjadi penasaran. Ada apa ramai-ramai saat itu?
“Fik, ada apa memangnya? Tidak sepertinya kelas kita riuh begini?” tanyaku pada Rofik, teman sebangku yang usai membicarakan suatu perihal.
“Ayib hilang kemarin, Lus! Sampai sekarang belum ditemukan,” jawab Rofik.
“Kamu tahu dari mana?” tanyaku penasaran.
Belum habis Rofik menggenapi rasa penasaranku tiba-tiba Bu Fulana, wali kelasku masuk ke kelas. Aku pun langsung saja berhamburan bersama dengan yang lainnya. Kami duduk pada tempatnya masing-masing.
“Ada Bu Fulana… Ada Bu Fulana…. Ayo, semua duduk, bersiap!” suara Amri, ketua kelasku langsung memberi komando. Jam pelajaran sudah masuk. Aku gagal mendapatkan penjelasan dari Rofik.
Ah, nanti saja saat jam istirahat aku tanya lagi,” gumamku.
Semua seisi kelas pun sudah duduk rapi. Pelajaran segera dimulai.
Tapi ternyata tidak! Kami hari itu tidak belajar. Kami sekelas dipulangkan lebih cepat dari biasanya. Karena Bu Fulana memberitahukan kabar yang menyedihkan untuk kami. Kabar yang membuat kami merasa kehilangan teman kelas kami.
“Hari ini Ibu sengaja memulangkan kalian cepat agar kalian bisa pulang lebih awal. Karena saat ini cuaca sedang tidak menentu. Terlebih saat hujan disertai panas turun, Ibu harap kalian tidak berada di luar rumah apalagi bermain. Kita baru saja kehilangan Ayib, teman sekelas kalian yang sampai saat ini belum ditemukan. Emak Ayib bilang Ayib hilang saat pulang maen bal2 bersama teman-temannya saat hujan disertai panas turun. Jadi, kalian harus langsung pulang ke rumah masing-masing sebelum hujan seperti kemarin turun. Kalian semua paham!”
“Paham, Bu!” koor kami serempak.
Akhirnya kami pun meninggalkan kelas masing-masing. Aku dan Rofik masih di dalam kelas. Aku ingin tahu kenapa Ayib bisa hilang. Aku makin penasaran.
Aku memutuskan untuk pulang berbarengan dengan Rofik. Aku ingin menggali lebih dalam tentang hilangnya Ayib padanya.
Bujuk-rayu kukerahkan pada Rofik. Jika ia mau menerangkan semua yang terjadi di dalam kelas tadi, ia akan kubonceng ketimbang berjalan kaki. Akhirnya aku pun nggonceng3 Rofik pulang bersamaku. Walau kami bertempat tinggal berbeda.
“Bagaimana Ayib bisa hilang?” tanyaku pada Rofik sambil menggoes man alek4.
“Tadi Emak Ayib datang ke sekolah. Ia memberitahukan kalau Ayib hilang saat maen bal. Padahal Emak Ayib sudah melarang Ayib untuk keluar rumah jika hujan disertai panas turun. Tapi, Ayib tidak mau mendengkarkan ucapan Emaknya itu.”
“Lalu, apa hubungannya dengan hujan itu?” Aku semakin penasaran dibuatnya.
“Kata orangtua dulu, kita dilarang keluar rumah apalagi bermain di tanah lapang saat usai hujan disertai panas tiba. Jika kita masih keluar rumah dan bermain. Itu kesempatan bagi Hantu Jaring5 menculik lalu menyembunyikan kita, tanpa seorang pun bisa melihat kita saat disembunyikan.” Rofik menjelaskan padaku bak seorang pendongeng yang sudah lihai. Ia begitu apik menceritakan semua yang terjadi pada Ayib. Cukup prihatin sekaligus bangar6  bagi kami yang masih anak-anak.
Tidak terasa kami pun sampai di rumah Rofik. Aku menurunkan Rofik tepat di pekarangangan rumahnya. Sedangkan aku kembali mengayuh man alek menuju rumahku. Bersyukur saat aku tiba di rumah, hujan seperti kemarin baru turun. Aku jadi tidak menunggu dulu di sekolah seperti perintah Emak.
Setiba di rumah aku pun langsung melepaskan seragam sekolah lalu menemui Emak. Ternyata Emak sedang meninabobokan Ihsan di kamar. Kuhampiri Emak untuk bertanya perihal Hantu Jaring yang diceritakan Rofik tadi. Emak pasti tahu lebih banyak tentang hantu itu. Kan Emak sudah tinggal lama di kampung ini.
“Ada apa, Lus?” tanya Emak saat aku menghampirinya. “Tidak biasanya kau menghampiri Emak usai pulang sekolah.”
Aku menuntun Emak dari kamar menuju ruang tamu, karena aku takut mengganggu Ihsan yang telelap7. Aku ingin menghapus rasa penasaranku mengenai hantu itu.
Sekarang aku sudah di hadapan Emak. Kuceritakan semua apa yang terjadi di sekolah tadi sekaligus rasa penasaranku tentang hantu itu. Semoga saja aku bisa mendapatkannya dari Emak.
“Emak tahu Hantu Jaring?” tanyaku.
Emak kulihat langsung tertegun.
Aku jadi serba salah. Apakah pertanyaanku terlalu mengada-ada atau hanya gurauan belaka. Entahlah. Kuharap Emak mau berbagi cerita padaku perihal hantu itu. Karena aku ingin segera mengetahuinya.
* * *
“Jangan lupa kau bawa ini!” pesan Emak memberikan padaku sebatang rumput sebelum berangkat sekolah.
“Ingat kalau nanti hujan disertai panas kembali turun, kau selipkan ramput ini di daun telinga kau itu. Ini agar kau terhindar dan selamat dari Hantu Jaring yang selalu menyembunyikan anak-anak seusia kau. Saat usai hujan seperti itu biasanya ia keluar,” lanjut Emak memberitahukan.
Aku diam saja. Aku melongo saat Emak menjelaskan kegunaan tumbuhan perdu itu.
Walau agak berat hati, kusimpan sebatang rumput itu di saku celana seragamku. Apalagi aku anak laki-laki jika ketahuan membawanya bisa-bisa menjadi bahan tertawaan teman-teman sekelas. Tapi sudahlah, ini juga untuk kebaikanku pula.
“Iya, Mak! Lus berangkat sekolah dulu ya. Assalamualaikum….”
Aku pun menuju sekolah dengan menahan rasa geli di pahaku, karena tergesek-gesek rumput itu saat aku mengayuh man alek.
Sesampai di sekolah aku melihat Bu Fulana membawa banyak batang rumput di dalam plastik yang tembus pandang oleh mataku. Cukup banyak saat itu—yang dibawa wali kelasku dan sama persis dengan aku bawa. Walaupun aku menaruhnya di saku celanaku.
Untuk apa Bu Fulana membawanya?” pikirku sedikit heran.
Akhirnya Bu Fulana masuk ke dalam kelas. Tepat jam pelajaran sekolah dimulai. Aku sudah duduk tenang bersama Rofik. Amri, ketua kelas pun sudah memberikan aba-aba untuk bersiap dan memberi selamat pagi pada guru kami itu.
“Anak-anak sebelum Ibu memulai pelajaran hari ini tentang macam-macam majas dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu terlebih dulu akan membagikan sesuatu pada kalian,” Bu Fulana mengawali ucapannya pagi itu di kelas.
Kami saling adu pandang. Saling bertanya-tanya apakah yang akan diberikan Bu Fulana di dalam kelas kami? Kami penasaran.
Ternyata Bu Fulana mengeluarkan banyak tumbuhan perdu dari dalam plastik. Ia membawanya untuk dibagikan pada kami. Walaupun kami masih bingung dan heran. Kenapa ia membagikannya itu pada kami, anak didiknya.
“Fik, kau bengong saja dari tadi aku lihat?” tanyaku sambil menyikut perut Rofik.
Auw…kulihat ia kesakitan. Karena aku mendadak mengagetkannya.
“Sakit tahu!” seru Rofik.
“Terus, kenapa kamu bengong begitu?” lanjutku.
“Aku heran, Lus, apa yang dibagikan Bu Fulana itu sama dengan yang aku bawa ini,” kata Rofik sambil menunjukkan tumbuhan perdu itu di tangannya. “Ini dari Emakku. Katanya, aku harus bawa dan dipakai di telinga jika nanti hujan disertai panas tiba. Kalau tidak aku akan dibawa Hantu Jaring lalu disembunyikan.”
Setali tiga uang. Aku pun langsung menunjukkan apa yang kubawa atas perintah Emak tadi.
Kami kembali saling adu pandang. Ternyata apa yang aku bawa dengan Rofik jelas-jelas sama dengan apa yang dibagikan Bu Fulana saat ini. Entah, apakah kegunaannya sama seperti dikatakan Emak sebelum aku berangkat sekolah. Kalau sebatang rumput bisa menyelamatkan diri dari segala ganguan Hantu Jaring. Entahlah. Seperti saat ini yang dibagikan Bu Fulana saat itu. Jika wali kelasku percaya juga kalau tumbuhan perdu itu bisa menghalau hantu itu.
Lalu hilangnya Ayib apakah karena ia tidak membawa tumbuhan perdu itu? Atau, tidak menyelipkan sebatang rumput di daun telinganya saat bermain? Entahlah. Bagiku semoga saja Ayib segera ditemukan kembali dan bisa bercengkrama bersama-sama kami lagi di kelas. Karena kami sangat menantikan Ayib kembali ke sekolah.


Catatan :
1.       Tingkap : Jendela
2.       Main bal : Main bola
3.       Nggonceng : Membonceng
4.       Man alek : Sepeda ontel
5.       Hantu Jaring : Hantu ini muncul pada saat hujan panas dan suka dengan anak-anak dengan cara menyembunyikannya. Hantu dipercayakan oleh penduduk di Kalimantan Barat (Pontianak). Hantu ini biasanya akan muncul di belakang rumah, sawah, maupun lapangan yang biasanya menjadi kegemaran anak kecil untuk bermain-main pada saat hujan panas. Cara untuk menghindari hantu ini dengan cara menyisipkan sebatang rumput atau sehelai daun yang disematkan pada daun telinga.
6.       Bangar : Seram
7.       Telelap : Tertidur


BIODATA
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas Pembatas Buku Jakata. Sekarang berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan puisi.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter