Pages

Ads 468x60px

Rabu, 17 Agustus 2016

PUISI ANDI JAMALUDDIN, AR.AK: KITA MULAI, MENEMU MERDEKA

   
    
    Puisi I
   MENCARI  DI MANA  PERSEMBUNYIAN  NEGERIKU
   PADA DESING PELURU WAKTU


// Kemerdekaan sebenarnyakah ? //

   Sebelum 71 tahun silam, negeriku kelam dalam tatap
   mencari sejengkal kebebasan matahari mengurai cahaya
   yang dicakar-cakar penjajah negeri seberang, melautkan darah
   mengalir di sungai-sungai sekujur tubuh
   yang teriris-iris pada semua sudut muara nadi
   tangis hanya bisa menuliskan kata merdeka dan kemudian menjelma
   lukisan merah putih sepanjang jiwa pertiwi. Persembunyian belantara
   terkuak ketika beribu nafas terhenyak dalam dendang alunan hari-hari
   tengadah menatap jauh.
   Kibaran hasrat dan harapan terhampar
   menguraikan lembar-lembar debu kepedihan tak terperi
   tulang-tulang telah terbayar meski tak bernama
   dalam tulisan kerinduan segenggam malam
   sebab tubuh-tubuh anak negeri tiada lelah
   meneriakkan kebebasan
   menggoreskan kebebasan
   menatap langit jingga di jendela senja.
   Kemerdekaan melepas jerit tangis


// Kemerdekaan sebenarnyakah ? //

   Kini 71 tahun silam, negeriku membuka tirai
   helai demi helai
   menata jejak pada lapis jalan
   genggam berjuta harapan lewati bentang-bentang peradaban
   melautkan asa matahari di timur ombak
   tetapi senyum pertiwi tercabik
   darah-darah merah kemerdekaan menjadi beku memilukan
   di mana-mana masih terkapar kenistaan
   moral dan harkat menjadi gadai sepanjang nafas
   persembunyian negeri kian terpendam di kedalaman waktu berlalu
   jauh bahkan semakin jauh desing peluru tertancap.
   Ah, kemerdekaan sebenarnya seakan lesap lenyap
   tak bermakna
   Di manakah ?

   Mungkinkah kita menemu lagi !


   Pagatan, 08 Juli 2015




Puisi II
KITA MULAI, MENEMU MERDEKA


sekejap saja angin mengalir pada helai-helai rambut
menyepikan musim ke musim
dedaunan bergoyang bahkan semakin bergoyang
meluruhkan makna ke batang-batang ladang
yang kering kerontang
hanya sejarah menyemai sejenak, terlintas beberapa saat pula

di mana-mana kamboja rebah sudah
bunga terkulai dijejak debu musim
menggelapar,
terkapar,
tergadai
lengkung langit diam
senandung kesedihan tak juga menuliskan notasi

sudahlah, kita coba lagi pajangkan cermin retak kini
pada dinding kerapuhan jiwa
tatap mata hingga ujung kaki, di mana terpijak
darah-darah yang melahirkan kebebasan
suara-suara yang terkubur dalam reranting duri
negeri yang akan tak terkoyak lagi
jauhkan perbedaan semata kasta

sudahlah, bagaimana kita coba hentikan arus tangis
di lorong-lorong musim ketika luka tercincang
deras sungai yang mengalir ke laut terbawa ombak
sejarah terpasung tak bermakna. Hanyalah segenggam asin air
meneguk sukma

sudahlah, kita sudah merdeka ;
merdeka berkata
merdeka menatap
merdeka melangkah
dalam kemerdekaan yang tak merdeka
mencari merdeka
sebab kita adalah amanah merdeka
pada sekeping kata merdeka

Sudahlah ! Kita mulai !
Menemu merdeka.


Pagatan, 21 Agustus 2015




Puisi III
SEBAB DARAH DAN AIRMATA
Karya : Andi Jamaluddin, AR. AK

(kita merenung
 kirimkan bait doa
 membasuh luka
 darah yang masih melekat
 di tulangmu !)

kita hanya ingat
ketika kita melihat harimu
; semata dunia esok
  yang terus mengalir ;
dalam arus ingatan
berjuang dikemerdekaan semu
hari-hari tiada menjenguk
di tingkap masa lalu

(kita merenung
 kirimkan bait doa
 membasuh luka
 darah yang masih melekat
 di tulangmu !)

sepanjang hari
kita hanya menatap waktu berdenting
berdetak dalam lambung
tak jua ada kenyang
piring makin melompong
gelas-gelas kaca menggelembung
terhempas, pecah
air mengering dalam lidah
seakan tak lelah
sementara kerongkongan
terus melolong
teriakkan bersungai-sungai mimpi bertualang
bukanlah perang
tetapi mencari garang

(kita merenung
 kirimkan bait doa
 membasuh luka
 darah yang masih melekat
 di tulangmu !)


Ingatlah !
Sebab darah dan airmata
kita bebas berkata
Sebab darah dan airmata
kita bebas melangkah
Sebab darah dan airmata
kita bebas bercengkerama
Sebab darah dan airmata
kita bebas berangan-angan
Sebab darah dan air mata
kita bebas bekerja
Sebab darah dan airmata
kita bebas berkarya
Sebab darah dan air mata
kita bebas bermunajat

Darah yang membara
Airmata yang membasah
Kita merenung.
Mari !


Pagatan, 05/02/2016  #10.37#




Biodata:
Andi Jamaluddin, AR. AK. Lahir 14 Februari dan bertempat tinggal di Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu sebagai tanah kelahirannya. Mulai aktif menulis sejak awal 80an, terutama puisi dan cerpen. Juga aktif diberbagai forum sastra, khususnya di Kalimantan Selatan. Berkali-kali menjadi pemenang sayembara penulisan naskah buku yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Kumpulan puisi tunggal maupun antologi bersama adalah Kehidupan, Domino, Matahariku, Pidato Seekor Kakap, Zikzai, Wasi, Seribu Sungai Paris Barantai, Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, Konser Kecemasan, Tragedi Buah Manggis, Sungai Kenangan, Bentara Bagang, Tadarus Rembulan, Bait-Bait 7 Februari (Editor), Mappanretasi di Radio Dalam Lingkar Lilin Kecil (Kumpulan Cerpen : Editor), Sepucuk Surat Dari Temanku (Kumpulan Cerpen : Editor), Memo Untuk Presiden, Siluet Rumah Laut, Tentang Kota Yang Menjaga Takbir Dalam Degup Dada, Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia, Ada Malam Bertabur Bintang, Pada Batas Tualang, Tarian Burung-Burung Laut, Elegi Rindu Senja di Rumah-rumah Bagang, Memo Untuk Wakil Rakyat, Kalimantan Selatan Menolak Untuk Menyerah, Kilau Zamrud Khatulistiwa, Memo Anti Terorisme,Percakapan Laut di Sungai Kusan, Arus Puisi Sungai, Rumah Abadi, Melepas Tubuh Dalam Cahaya, dan Jalan Mulai Terang yang merupakan salah satu buku pemenang ke2 Sayembara Penulisan Naskah Tingkat Nasional tahun 2000 dan telah diterbitkan oleh Analisa Jogjakara. Pada lomba cipta puisi ASKS X terpilih sebagai pemenang Harapan 1 dan puisi “Tadarus Duka di Pelaminan Gaza” (dalam antologi Tentang Kota Yang Menjaga Takbir Dalam Degup Dada) terpilih Juara Terbaik II pada lomba cipta puisi Bebaskan Palestina yang dilaksanakan oleh FAM tahun 2014 lalu. Puisinya yang berjudul “Indonesiaku Menuju Perubahan” menjadi materi wajib Lomba Dramatisasi Puisi di Padang (Sumatera Barat). Menerima hadiah seni dari Gubernur Kalsel bidang sastra Tahun 2012. Merintis dan merekrut mereka yang suka menulis, khususnya di bidang sastra, mulai dari siswa, guru Bahasa dan Sastra dan mereka yang memiliki kemampuan menulis puisi serta selalu memotivasinya, yang kemudian akhirnya mendirikan Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu dan menjadi koordinator. Semua anak-anak yang tergabung di komunitas ini memanggil dengan sebutan ‘ayah’. Sekarang tinggal di Jalan Karya II RT.03 Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.





Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter