Puisi I
MENCARI DI MANA PERSEMBUNYIAN NEGERIKU
PADA DESING PELURU
WAKTU
//
Kemerdekaan sebenarnyakah ? //
Sebelum 71 tahun silam, negeriku kelam dalam
tatap
mencari sejengkal kebebasan matahari
mengurai cahaya
yang dicakar-cakar penjajah negeri seberang,
melautkan darah
mengalir di sungai-sungai sekujur tubuh
yang teriris-iris pada semua sudut muara
nadi
tangis hanya bisa menuliskan kata merdeka
dan kemudian menjelma
lukisan merah putih sepanjang jiwa pertiwi.
Persembunyian belantara
terkuak ketika beribu nafas terhenyak dalam
dendang alunan hari-hari
tengadah menatap jauh.
Kibaran hasrat dan harapan terhampar
menguraikan lembar-lembar debu kepedihan tak
terperi
tulang-tulang telah terbayar meski tak
bernama
dalam tulisan kerinduan segenggam malam
sebab tubuh-tubuh anak negeri tiada lelah
meneriakkan kebebasan
menggoreskan kebebasan
menatap langit jingga di jendela senja.
Kemerdekaan melepas jerit tangis
//
Kemerdekaan sebenarnyakah ? //
Kini 71 tahun silam, negeriku membuka tirai
helai demi helai
menata jejak pada lapis jalan
genggam berjuta harapan lewati
bentang-bentang peradaban
melautkan asa matahari di timur ombak
tetapi senyum pertiwi tercabik
darah-darah merah kemerdekaan menjadi beku
memilukan
di mana-mana masih terkapar kenistaan
moral dan harkat menjadi gadai sepanjang
nafas
persembunyian negeri kian terpendam di
kedalaman waktu berlalu
jauh bahkan semakin jauh desing peluru
tertancap.
Ah, kemerdekaan sebenarnya seakan lesap
lenyap
tak bermakna
Di manakah ?
Mungkinkah kita menemu lagi !
Pagatan, 08 Juli 2015
Puisi II
KITA MULAI, MENEMU MERDEKA
sekejap
saja angin mengalir pada helai-helai rambut
menyepikan
musim ke musim
dedaunan
bergoyang bahkan semakin bergoyang
meluruhkan
makna ke batang-batang ladang
yang
kering kerontang
hanya
sejarah menyemai sejenak, terlintas beberapa saat pula
di
mana-mana kamboja rebah sudah
bunga
terkulai dijejak debu musim
menggelapar,
terkapar,
tergadai
lengkung
langit diam
senandung
kesedihan tak juga menuliskan notasi
sudahlah,
kita coba lagi pajangkan cermin retak kini
pada
dinding kerapuhan jiwa
tatap
mata hingga ujung kaki, di mana terpijak
darah-darah
yang melahirkan kebebasan
suara-suara
yang terkubur dalam reranting duri
negeri
yang akan tak terkoyak lagi
jauhkan
perbedaan semata kasta
sudahlah,
bagaimana kita coba hentikan arus tangis
di
lorong-lorong musim ketika luka tercincang
deras
sungai yang mengalir ke laut terbawa ombak
sejarah
terpasung tak bermakna. Hanyalah segenggam asin air
meneguk
sukma
sudahlah,
kita sudah merdeka ;
merdeka
berkata
merdeka
menatap
merdeka
melangkah
dalam
kemerdekaan yang tak merdeka
mencari
merdeka
sebab
kita adalah amanah merdeka
pada
sekeping kata merdeka
Sudahlah
! Kita mulai !
Menemu
merdeka.
Pagatan, 21 Agustus 2015
Puisi
III
SEBAB DARAH DAN AIRMATA
Karya : Andi Jamaluddin, AR. AK
(kita merenung
kirimkan bait doa
membasuh
luka
darah yang masih melekat
di
tulangmu !)
kita hanya ingat
ketika kita melihat harimu
; semata dunia esok
yang terus mengalir ;
dalam arus ingatan
berjuang dikemerdekaan semu
hari-hari tiada menjenguk
di tingkap masa lalu
(kita merenung
kirimkan
bait doa
membasuh luka
darah yang masih melekat
di
tulangmu !)
sepanjang hari
kita hanya menatap waktu berdenting
berdetak dalam lambung
tak jua ada kenyang
piring makin melompong
gelas-gelas kaca menggelembung
terhempas, pecah
air mengering dalam lidah
seakan tak lelah
sementara kerongkongan
terus melolong
teriakkan bersungai-sungai mimpi
bertualang
bukanlah perang
tetapi mencari garang
(kita merenung
kirimkan bait doa
membasuh luka
darah yang masih melekat
di
tulangmu !)
Ingatlah !
Sebab darah dan airmata
kita bebas berkata
Sebab darah dan airmata
kita bebas melangkah
Sebab darah dan airmata
kita bebas bercengkerama
Sebab darah dan airmata
kita bebas berangan-angan
Sebab darah dan air mata
kita bebas bekerja
Sebab darah dan airmata
kita bebas berkarya
Sebab darah dan air mata
kita bebas bermunajat
Darah yang membara
Airmata yang membasah
Kita merenung.
Mari !
Pagatan,
05/02/2016 #10.37#
Biodata:
Andi
Jamaluddin, AR. AK.
Lahir 14 Februari dan bertempat tinggal di Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu
sebagai tanah kelahirannya. Mulai
aktif menulis sejak awal 80an, terutama puisi dan cerpen. Juga aktif diberbagai
forum sastra, khususnya di Kalimantan Selatan. Berkali-kali menjadi pemenang
sayembara penulisan naskah buku yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional,
baik di tingkat provinsi maupun nasional. Kumpulan puisi tunggal maupun
antologi bersama adalah Kehidupan,
Domino, Matahariku, Pidato Seekor Kakap, Zikzai, Wasi, Seribu Sungai Paris
Barantai, Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, Konser Kecemasan, Tragedi Buah
Manggis, Sungai Kenangan, Bentara Bagang, Tadarus Rembulan, Bait-Bait 7
Februari (Editor), Mappanretasi di Radio Dalam Lingkar Lilin Kecil (Kumpulan
Cerpen : Editor), Sepucuk Surat Dari Temanku (Kumpulan Cerpen : Editor), Memo
Untuk Presiden, Siluet Rumah Laut, Tentang Kota Yang Menjaga Takbir Dalam Degup Dada, Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia, Ada Malam Bertabur Bintang,
Pada Batas Tualang, Tarian Burung-Burung Laut, Elegi
Rindu Senja di Rumah-rumah Bagang, Memo Untuk Wakil Rakyat, Kalimantan Selatan
Menolak Untuk Menyerah, Kilau Zamrud
Khatulistiwa, Memo Anti Terorisme,Percakapan Laut di Sungai Kusan, Arus Puisi
Sungai, Rumah Abadi, Melepas Tubuh Dalam Cahaya, dan Jalan
Mulai Terang yang merupakan salah satu buku
pemenang ke2 Sayembara Penulisan Naskah Tingkat Nasional tahun 2000 dan telah
diterbitkan oleh Analisa Jogjakara. Pada lomba cipta puisi ASKS X terpilih
sebagai pemenang Harapan 1 dan puisi “Tadarus
Duka di Pelaminan Gaza” (dalam antologi Tentang Kota Yang Menjaga Takbir
Dalam Degup Dada) terpilih Juara Terbaik II pada lomba cipta puisi Bebaskan
Palestina yang dilaksanakan oleh FAM tahun 2014 lalu. Puisinya yang berjudul “Indonesiaku Menuju Perubahan” menjadi
materi wajib Lomba Dramatisasi Puisi di Padang (Sumatera Barat). Menerima
hadiah seni dari Gubernur Kalsel bidang sastra Tahun 2012. Merintis dan
merekrut mereka yang suka menulis, khususnya di bidang sastra, mulai dari
siswa, guru Bahasa dan Sastra dan mereka yang memiliki kemampuan menulis puisi
serta selalu memotivasinya, yang kemudian akhirnya mendirikan Komunitas Bagang
Sastra Tanah Bumbu dan menjadi koordinator. Semua anak-anak yang tergabung di
komunitas ini memanggil dengan sebutan ‘ayah’. Sekarang tinggal di Jalan Karya II RT.03
Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.

