“Bang, bisa bantu, ga?” begitu isi whatsapp dari seseorang.
“Bantu apa? Insya-Allah!”. “Bisa kasih ide? Aku dikejar deadline, nih. Mau
nulis apa, bingung!”. “La, sampeyan itu penulis hebat. Jam terbang sudah
banyak. Masa masih bingung nyari ide?” sergahku. “Penulis juga manusia, Bang!”.
“Kalau dirimu yang sudah profesional itu aja, bingung. Apalagi aku yang
amatiran!”. “Kan, abang kolumnis. Tiap minggu ada esainya. Pasti subur
idenya!”. “Hei, kolumnis juga manusia!”.
Belum dapat ide atau susah dapat ide untuk menulis, begitu
problemnya. Keluhan semacam ini juga sering didengar dari peserta pelatihan
yang terkait dengan penulisan. Kalau yang mengeluh adalah orang-orang yang baru
memulai menjadi penulis, bisa jadi karena tidak terlatih. Namun, jika yang
mengeluh mereka yang sudah biasa menulis atau bahkan penulis profesional, bisa
jadi karena isi kepalanya sudah terlalu penuh sehingga pampat, walau asumsi ini
terasa sumir.
Ide sangat berharga bagi penulis, bahkan bagi kreator apa pun.
Ide masih berbentuk sebuah imajinasi dan hanya muncul dari pikiran yang jernih.
Ide bisa hadir kapan saja, muncul sejenak dan kemudian menghilang. Dalam kajian
Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam ide itu menyangkut suatu gambaran
imajinal utuh yang melintas cepat. Perlu kecekatan menangkapnya. Kreator
berpengalaman, termasuk penulis, biasanya langsung mencatat ide yang melintas
itu, sekalipun belum diperlukan.
Ide menjadi sangat mahal ketika belum juga diperoleh. Sekelompok
orang berduit sering memanfaatkan ‘kebodohan’ orang-orang cerdas untuk
memperoleh ide. Mereka undang para cendekiawan itu untuk bertemu, berbincang,
makan bersama, atau berseminar. Dilepaslah umpan permasalahan. Ramailah ide-ide
bermunculan untuk direkam dengan baik. Ide-ide itu akhirnya dikembangkan
menjadi produk-produk luar biasa. Sementara pencetus ide, entah siapa, tak lagi
penting. Waspadalah, para pencuri ide itu ada di sekeliling kita.
Kawan-kawan penulis sering berbagi pengalaman bagaimana cara
menemukan ide atau memaksakan munculnya ide. Kadang-kadang terlihat biasa saja,
tapi dalam praktiknya belum tentu dapat. Misalnya, harus menyeruput
bergelas-gelas kopi hitam dulu atau menghabiskan berbatang-batang rokok dulu.
Ada juga mesti cari tempat yang inspiratif: sungai, gunung, dan pantai, atau
menyendiri di kamar hotel. Yang terakhirnya jadi berat diongkos.
Lo, bukannya ide itu mahal, Bung! Jadi jangan lihat ongkos untuk
memperolehnya! Benar juga. Ada teman penulis yang suka belanja banyak buku
untuk dibaca sebelum dia menulis. Misalnya, dia ingin menuliskan pengalamannya
naik haji, maka dia membeli buku buku karya orang lain terkait dengan naik haji
atau perjalanan pada umumnya. Dan itu kelihatan manjur. Selain ide menjadi
lancar, metode penulisannya juga dapat.
Ada juga cerita penulis novel dan skenario film yang harus
menginap dan menyepi di sebuah kampung yang dipersepsikan senafas dengan bakal
latar penulisannya. Dia bawa laptop (kalau dulu mesin tik) dan berhelai-helai
kertas. Dan mulailah dia menjalani kehidupan menulis sambil beradaptasi dengan
lingkungan dan masyarakat setempat. Benar, ide-ide itu bermuncul dan mengalir.
Bahkan, sempat gonta ganti ide untuk tulisannya.
Modal penulis memang harus banyak membaca. Membaca artinya ada
banyak bahan bacaan yang harus dimiliki untuk dibaca. Bacaan itulah bahan
bakunya yang menyuburkan tumbuhnya ide. Membaca juga berarti memperhatikan
apa-apa yang ada disekitar untuk dipelajari, dipahami, dan dialami. Justru
konsep membaca seperti makna ‘iqra’ wahyu pertama Rasulullah ini sumber ide
yang tak habis-habisnya. Tinggal sekarang, punyakan kita kepekaan untuk
menangkapnya?
“Bagaimana, Bang, sudah dapat ide yang bisa dibagi?” kembali
whatsapp orang itu muncul. “Kan sudah diuraikan dalam esaiku!” jelasku. “Tapi,
justru makin nyanyuk aku membacanya, Bang!”. “Lo, sampeyan dasarnya emang lagi
nyanyuk!”. “Masa sih, Bang?”. “Nyanyuk itu pikiran yang tidak jernih,
lagi kacau! Bahasa Banjarnya ‘nyanyaw’ ”. “Trus, gimana supaya ga nyanyuk
sekalian dapat ide?”. “Ya, bawa salat istikharah!”. “Bukannya istikharah itu
salat minta petunjuk?”. “Lo, petunjuk itu ide!” [ ]
