Pages

Ads 468x60px

Senin, 05 September 2016

ZULFAISAL PUTERA: NYANYUK


“Bang, bisa bantu, ga?” begitu isi whatsapp dari seseorang. “Bantu apa? Insya-Allah!”. “Bisa kasih ide? Aku dikejar deadline, nih. Mau nulis apa, bingung!”. “La, sampeyan itu penulis hebat. Jam terbang sudah banyak. Masa masih bingung nyari ide?” sergahku. “Penulis juga manusia, Bang!”. “Kalau dirimu yang sudah profesional itu aja, bingung. Apalagi aku yang amatiran!”. “Kan, abang kolumnis. Tiap minggu ada esainya. Pasti subur idenya!”. “Hei, kolumnis juga manusia!”.
Belum dapat ide atau susah dapat ide untuk menulis, begitu problemnya. Keluhan semacam ini juga sering didengar dari peserta pelatihan yang terkait dengan penulisan. Kalau yang mengeluh adalah orang-orang yang baru memulai menjadi penulis, bisa jadi karena tidak terlatih. Namun, jika yang mengeluh mereka yang sudah biasa menulis atau bahkan penulis profesional, bisa jadi karena isi kepalanya sudah terlalu penuh sehingga pampat, walau asumsi ini terasa sumir.
Ide sangat berharga bagi penulis, bahkan bagi kreator apa pun. Ide masih berbentuk sebuah imajinasi dan hanya muncul dari pikiran yang jernih. Ide bisa hadir kapan saja, muncul sejenak dan kemudian menghilang. Dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam ide itu menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Perlu kecekatan menangkapnya. Kreator berpengalaman, termasuk penulis, biasanya langsung mencatat ide yang melintas itu, sekalipun belum diperlukan.
Ide menjadi sangat mahal ketika belum juga diperoleh. Sekelompok orang berduit  sering memanfaatkan ‘kebodohan’ orang-orang cerdas untuk memperoleh ide. Mereka undang para cendekiawan itu untuk bertemu, berbincang, makan bersama, atau berseminar. Dilepaslah umpan permasalahan. Ramailah ide-ide bermunculan untuk direkam dengan baik. Ide-ide itu akhirnya dikembangkan menjadi produk-produk luar biasa. Sementara pencetus ide, entah siapa, tak lagi penting. Waspadalah, para pencuri ide itu ada di sekeliling kita.
Kawan-kawan penulis sering berbagi pengalaman bagaimana cara menemukan ide atau memaksakan munculnya ide. Kadang-kadang terlihat biasa saja, tapi dalam praktiknya belum tentu dapat. Misalnya, harus menyeruput bergelas-gelas kopi hitam dulu atau menghabiskan berbatang-batang rokok dulu. Ada juga mesti cari tempat yang inspiratif: sungai, gunung, dan pantai, atau menyendiri di kamar hotel. Yang terakhirnya jadi berat diongkos.
Lo, bukannya ide itu mahal, Bung! Jadi jangan lihat ongkos untuk memperolehnya! Benar juga. Ada teman penulis yang suka belanja banyak buku untuk dibaca sebelum dia menulis. Misalnya, dia ingin menuliskan pengalamannya naik haji, maka dia membeli buku buku karya orang lain terkait dengan naik haji atau perjalanan pada umumnya. Dan itu kelihatan manjur. Selain ide menjadi lancar, metode penulisannya juga dapat.
Ada juga cerita penulis novel dan skenario film yang harus menginap dan menyepi di sebuah kampung yang dipersepsikan senafas dengan bakal latar penulisannya. Dia bawa laptop (kalau dulu mesin tik) dan berhelai-helai kertas. Dan mulailah dia menjalani kehidupan menulis sambil beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat setempat. Benar, ide-ide itu bermuncul dan mengalir. Bahkan, sempat gonta ganti ide untuk tulisannya.
Modal penulis memang harus banyak membaca. Membaca artinya ada banyak  bahan bacaan yang harus dimiliki untuk dibaca. Bacaan itulah bahan bakunya yang menyuburkan tumbuhnya ide. Membaca juga berarti memperhatikan apa-apa yang ada disekitar untuk dipelajari, dipahami, dan dialami. Justru konsep membaca seperti makna ‘iqra’ wahyu pertama Rasulullah ini sumber ide yang tak habis-habisnya. Tinggal sekarang, punyakan kita kepekaan untuk menangkapnya?
“Bagaimana, Bang, sudah dapat ide yang bisa dibagi?” kembali whatsapp orang itu muncul. “Kan sudah diuraikan dalam esaiku!” jelasku. “Tapi, justru makin nyanyuk aku membacanya, Bang!”. “Lo, sampeyan dasarnya emang lagi nyanyuk!”. “Masa sih, Bang?”. “Nyanyuk itu pikiran yang  tidak jernih, lagi kacau! Bahasa Banjarnya ‘nyanyaw’ ”. “Trus, gimana supaya ga nyanyuk sekalian dapat ide?”. “Ya, bawa salat istikharah!”. “Bukannya istikharah itu salat minta petunjuk?”. “Lo, petunjuk itu ide!” [ ]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter