Puisi
I
DI
BAWAH BAYANGAN KOTA YANG TERBAKAR
––Afrizal
Malna
[i-}
entah kenapa bayangan itu berkelebat tepat
dihadapan seorang berkalung sorban sehari
harinya letih mengais zikir dan getir hidupan
selalu memang pada angan berbeda dengan
kenyataan yang ada, yang telah diikrarkan
yang telah direstui, yang telah ditakdirkan
hanya waktu yang tak setia berhenti sejenak
menghaturkan bara hingga lekat dalam dada
[2-}
kadangkala, kita dihantam risau yang menjadi
pisau: menghujam tepat diulu hati dikau
telah berdebu membalut kota demi kota
ruang demi ruang, masa demi masa
kau sudah bangun dari tubuh yang letih?
dari sebuah luka yang menggerai sungai
hingga pedih membakar kerontang raga
tersekat pada setiap tingkap yang lindap
walau kita tak mencoba menangkap
[3-}
aha!
ini kisah imajinasi kaum-kaum ironi
yang memburaikan mimpi-mimpi ilusi
walau kita tahu yang mati telah pernah
nyata, yang sirna telah pernah ada
maka, biarkan siklus tetap menghembus
reriuh kata-kata lelehkan dengan cerita
tentang bayangan yang membakar sebuah kota
Puisi II
ARTI
YANG DIGANTI
: bagi kaum
yang telah mati
kau beri kami sebuah durga
sebagai ganti seharap doa
kau bukakan gerbang surga
sebagai ganti amal pahala
Puisi III
KETIKA PURNAMA LEKANG
kelam makin mengentalkan
malam
mengantarkan jiwa-jiwa
hampa
keruang-ruang lengang
tempat ruh istirah
tiba-tiba kita berkaca-kaca
bercerita tentang air mata
malam makin menghanyutkan
kelam yang kian menikam
Biodata:
Muhammad Husein Heikal,
lahir di Medan, 11 Januari 1997. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Sumatera Utara. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai, cerpen
dan opini yang dipublikasikan koran Analisa,
Waspada, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Minggu Pagi, Riau Pos, Sumut Pos, Suara
Karya, Haluan, Tribun Bali, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Koran Madura,
Koran Pantura, Horison/Kakilangit, Aksara,
Jejak, Flores Sastra, Riau Realita,
Negeri Kertas serta dalam antologi Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Kumpulan
Esai Pilihan Riau Pos, 2015) dan Perayaan Cinta (Kumpulan Puisi Pilihan Poetry Prairie, 2016), Ketika Tubuhmu Mawar (Puisi Terbaik
Sabana Pustaka, 2016). Tengah menyelesaikan manuskrip puisinya yang bertajuk Ritual Luka.

