Pages

Ads 468x60px

Rabu, 07 September 2016

PUISI MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL: KOTA YANG TERBAKAR


Puisi I
DI BAWAH BAYANGAN KOTA YANG TERBAKAR
                ––Afrizal Malna

[i-}
entah kenapa bayangan itu berkelebat tepat
dihadapan seorang berkalung sorban sehari
harinya letih mengais zikir dan getir hidupan
selalu memang pada angan berbeda dengan
kenyataan yang ada, yang telah diikrarkan
yang telah direstui, yang telah ditakdirkan
hanya waktu yang tak setia berhenti sejenak
menghaturkan bara hingga lekat dalam dada


[2-}
kadangkala, kita dihantam risau yang menjadi
pisau: menghujam tepat diulu hati dikau
telah berdebu membalut kota demi kota
ruang demi ruang, masa demi masa
kau sudah bangun dari tubuh yang letih?
dari sebuah luka yang menggerai sungai
hingga pedih membakar kerontang raga
tersekat pada setiap tingkap yang lindap
walau kita tak mencoba menangkap

[3-}
aha!
ini kisah imajinasi kaum-kaum ironi
yang memburaikan mimpi-mimpi ilusi
walau kita tahu yang mati telah pernah
nyata, yang sirna telah pernah ada
maka, biarkan siklus tetap menghembus
reriuh kata-kata lelehkan dengan cerita
tentang bayangan yang membakar sebuah kota




Puisi II
ARTI YANG DIGANTI
                : bagi kaum yang telah mati

kau beri kami sebuah durga
sebagai ganti seharap doa

kau bukakan gerbang surga
sebagai ganti amal pahala




Puisi III
KETIKA PURNAMA LEKANG

kelam makin mengentalkan malam
mengantarkan jiwa-jiwa hampa

keruang-ruang lengang
tempat ruh istirah

tiba-tiba kita berkaca-kaca
bercerita tentang air mata

malam makin menghanyutkan
kelam yang kian menikam




Biodata:
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai, cerpen dan opini yang dipublikasikan koran Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Minggu Pagi, Riau Pos, Sumut Pos, Suara Karya, Haluan, Tribun Bali, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Koran Madura, Koran Pantura, Horison/Kakilangit, Aksara, Jejak, Flores Sastra, Riau Realita, Negeri Kertas serta dalam antologi Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Kumpulan Esai Pilihan Riau Pos, 2015) dan Perayaan Cinta (Kumpulan Puisi Pilihan Poetry Prairie, 2016), Ketika Tubuhmu Mawar (Puisi Terbaik Sabana Pustaka, 2016). Tengah menyelesaikan manuskrip puisinya yang bertajuk Ritual Luka.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter