Pages

Ads 468x60px

Jumat, 04 November 2016

PUISI AN NAJMI: BASA-BASI LANGIT DARI ATAS BUKIT


Puisi I
CERITA YANG DIINGAT DI LANGIT PAGI

I
Pagi hari ini, langit kita diperisai oleh sahutan ayam
di antara lainnya ada kebisingan yang mulai gaduh
kaki-kaki berderap selayaknya ruh petarung tangguh
mempertontonkan ambisi dari dalam kepala utuh

II
Anak-anak masih menunjukkan laku kanaknya
Remaja tetap mengolah asa seolah raja
Dewasa dengan segala kebijakan yang dipunyanya
dan yang tua menunggu ajal saja

III
Mentari menyingsing indah di tiap baris atap-atap rumah
Itu khusus bagi kita yang berpunya; katanya
Sebagian sinar lain membakar ketidakberuntungan
Bagi kemalasan dan kemiskinan yang dialasi koran atau tikar bekasan

IV
Dan ada banyak penyesalan, juga alasan yang datang di setiap pagi memang,
Di atas reruntuhan semangat dari bantal kehidupan
Padahal, mimpi-mimpi adalah selaksa jalan yang diberikan
Asal syukur dijalankan dan tetap ingat Tuhan!


Prabumulih, 11 Mei 2016




Puisi II
DARI ATAS BUKIT

dari atas bukit yang berbukit,
dosa-dosa bersaksi penyesalan
doa dan kata akan dijadikan perapalan,
 sekaligus ratapan
kesedihan manusia akan serupa perhiasan
 yang mahal dibuktikan

tidakkah dikenang?
seberapa jauh mata telah memandang perlakuan?
atas tingkah pongah kebiasaan
yang ajar kebutaan
 ibarat pohon ilalang rindang,
menghalang

masa lalunya adalah lilin-lilin lampau,
hidup tepat di hadapan matahari
terlalu silau bagi mata yang mencari,
 sebab, pasti berujung pada gelap sepi
yang menyesati

dan doa adalah mata-mata tuhan
di antara seribu lisan tanpa alasan, agar berkenan, dibacakan
sesuka yang mengharap keridhoan
semoga,
busana yang ditanggalkan tak lagi dilupakan
menjadi iman yang basuh luka kehidupan


Prabumulih, 2016




Puisi III
CERITA BASABASI BUMI

gejolak hidup menyapa mimpi, di atas ratus juta sanubari
dengan kuduk-kuduknya mematri, langkah tegap tak berarti ngeri
agar segagah pusaka pencitraaan bangsa
dan di bumi,
 kepentingan-kepentingan hidup paling semi
di atas tujuan yang tertata rapi
jauh di kata kolusi, iri dan dengki; atau hanya munafiki
keindahan terkesan dibuat
memuat lisan-lisan kian keparat
tak lagi mampu dipegang janji, kepercayaan ditanggalkan
ironi memperbudak diri dalam birokrasi
yang berkata hanya basa-basi
seketika menjadi busuk
dikontaminasi akhlak yang bejat, melucut naluri
memecut emosi
perubahan seperti benar dicari
tapi akar masalah tak dipahami
ke mana semua akan lari? bumi?
tempat hati kita berdiri
sebelum diakhiri, tanya diri
 sendiri!


Prabumulih, 2016


Biodata
An Najmi
. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan. Puisi-puisinya pernah di muat di beberapa media nasional, cetak ataupun online seperti DETAK PEKANBARU, Sayap Kata, Metro Riau, Harian Tribun Sumsel, Xpresi Riau Pos, Posmetro Prabu, Sastra Mata Benua Banjarmasin, Ruang Aksara, Riaurealita.com, Tetas Kata, Sastra Dinamika, Sriwijaya Pos, Majalah Buletin Jejak FSB Bekasi, Litera.co.id, Koran Haluan Padang, Flores Sastra dan Koran Madura. Buku kumpulan puisi perdananya berjudul Gelombang Paruh Kedua diterbitkan Maret 2016. Puisinya juga banyak termuat dalam buku antologi bersama di antaranya Malam Larut dan Cerita yang Membelenggunya.
Saat ini bergiat sebagai ketua di komunitas puisi COMPETER (Community Pena Terbang) Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan cabang COMPETER (Community Pena Terbang) – Pekanbaru.  Untuk mengenalnya bisa add FB-nya An Najmi email : star.annajmi@gmail.com





Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter