Puisi I
CERITA YANG
DIINGAT DI LANGIT PAGI
I
Pagi hari
ini, langit kita diperisai oleh sahutan ayam
di antara
lainnya ada kebisingan yang mulai gaduh
kaki-kaki
berderap selayaknya ruh petarung tangguh
mempertontonkan
ambisi dari dalam kepala utuh
II
Anak-anak
masih menunjukkan laku kanaknya
Remaja tetap
mengolah asa seolah raja
Dewasa
dengan segala kebijakan yang dipunyanya
dan yang tua
menunggu ajal saja
III
Mentari
menyingsing indah di tiap baris atap-atap rumah
Itu khusus
bagi kita yang berpunya; katanya
Sebagian
sinar lain membakar ketidakberuntungan
Bagi
kemalasan dan kemiskinan yang dialasi koran atau tikar bekasan
IV
Dan ada
banyak penyesalan, juga alasan yang datang di setiap pagi memang,
Di atas
reruntuhan semangat dari bantal kehidupan
Padahal,
mimpi-mimpi adalah selaksa jalan yang diberikan
Asal syukur
dijalankan dan tetap ingat Tuhan!
Prabumulih, 11 Mei 2016
Puisi II
DARI ATAS
BUKIT
dari atas
bukit yang berbukit,
dosa-dosa
bersaksi penyesalan
doa dan kata
akan dijadikan perapalan,
sekaligus ratapan
kesedihan
manusia akan serupa perhiasan
yang mahal dibuktikan
tidakkah
dikenang?
seberapa
jauh mata telah memandang perlakuan?
atas tingkah
pongah kebiasaan
yang ajar
kebutaan
ibarat pohon ilalang rindang,
menghalang
masa lalunya
adalah lilin-lilin lampau,
hidup tepat
di hadapan matahari
terlalu
silau bagi mata yang mencari,
sebab, pasti berujung pada gelap sepi
yang
menyesati
dan doa
adalah mata-mata tuhan
di antara
seribu lisan tanpa alasan, agar berkenan, dibacakan
sesuka yang
mengharap keridhoan
semoga,
busana yang
ditanggalkan tak lagi dilupakan
menjadi iman
yang basuh luka kehidupan
Prabumulih, 2016
Puisi III
CERITA
BASABASI BUMI
gejolak hidup
menyapa mimpi, di atas ratus juta sanubari
dengan
kuduk-kuduknya mematri, langkah tegap tak berarti ngeri
agar segagah
pusaka pencitraaan bangsa
dan di bumi,
kepentingan-kepentingan hidup paling semi
di atas
tujuan yang tertata rapi
jauh di kata
kolusi, iri dan dengki; atau hanya munafiki
keindahan
terkesan dibuat
memuat lisan-lisan
kian keparat
tak lagi
mampu dipegang janji, kepercayaan ditanggalkan
ironi memperbudak
diri dalam birokrasi
yang berkata
hanya basa-basi
seketika
menjadi busuk
dikontaminasi
akhlak yang bejat, melucut naluri
memecut
emosi
perubahan
seperti benar dicari
tapi akar
masalah tak dipahami
ke mana
semua akan lari? bumi?
tempat hati
kita berdiri
sebelum
diakhiri, tanya diri
sendiri!
Prabumulih, 2016
Biodata
An Najmi. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan. Puisi-puisinya pernah di muat di beberapa media nasional, cetak ataupun online seperti DETAK PEKANBARU, Sayap Kata, Metro Riau, Harian Tribun Sumsel, Xpresi Riau Pos, Posmetro Prabu, Sastra Mata Benua Banjarmasin, Ruang Aksara, Riaurealita.com, Tetas Kata, Sastra Dinamika, Sriwijaya Pos, Majalah Buletin Jejak FSB Bekasi, Litera.co.id, Koran Haluan Padang, Flores Sastra dan Koran Madura. Buku kumpulan puisi perdananya berjudul Gelombang Paruh Kedua diterbitkan Maret 2016. Puisinya juga banyak termuat dalam buku antologi bersama di antaranya Malam Larut dan Cerita yang Membelenggunya.
An Najmi. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan. Puisi-puisinya pernah di muat di beberapa media nasional, cetak ataupun online seperti DETAK PEKANBARU, Sayap Kata, Metro Riau, Harian Tribun Sumsel, Xpresi Riau Pos, Posmetro Prabu, Sastra Mata Benua Banjarmasin, Ruang Aksara, Riaurealita.com, Tetas Kata, Sastra Dinamika, Sriwijaya Pos, Majalah Buletin Jejak FSB Bekasi, Litera.co.id, Koran Haluan Padang, Flores Sastra dan Koran Madura. Buku kumpulan puisi perdananya berjudul Gelombang Paruh Kedua diterbitkan Maret 2016. Puisinya juga banyak termuat dalam buku antologi bersama di antaranya Malam Larut dan Cerita yang Membelenggunya.
Saat ini bergiat sebagai ketua di komunitas
puisi COMPETER (Community Pena Terbang) Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan
cabang COMPETER (Community Pena Terbang) – Pekanbaru. Untuk mengenalnya bisa add FB-nya An Najmi
email : star.annajmi@gmail.com
