Bel tanda istirahat berbunyi,
membuyarkan seluruh murid-murid di SMP Favorit di kotaku. Demikian juga kelasku, suara senyap berganti dengan riuhnya suara teman-temanku.
Suara Pak Dudung guru IPA-ku tak
terdengar lagi olehku. Padahal tadi sempat akan memberikan PR
yang akan dikumpulkan minggu depan.
Kernyit pak Dudung nampak semakin
terlihat ketika kami semua semakin tak sabar ingin keluar kelas. Selama 2 jam
pelajaran mendengarkan suara pak Dudung saja rasanya seperti seharian penuh.
Aduh aku merasa lebay deh untuk hal ini. Sambil menggeleng-geleng kepala pak
Dudung beranjak meninggalkan kelas diikuti teman-teman yang sudah tak sabar
ingin keluar kelas.
Hari ini aku rasanya malas keluar kelas. Ajakan
Tina dan Jeje untuk jajan di kantin sekolah kutolak. Walau dengan rengekan yang
khas dari Jeje, ajakan itu tetap kutolak.
“Kamu kenapa sih, Na, tumben nggak
mau jajan ke kantin?”
rengek Jeje.
”Berdua aja gih, aku lagi males
rasanya. Lagian aku masih kenyang nih. Aku kan nggak
mau ndut kayak si Tina,” selorohku sambil ngelirik lucu ke Tina.
Tina memonyongkan mulutnya. Dia
paling tidak suka dikatain ndut. Dan bisa ngambek berhari-hari bila kata itu
ditujukan padanya.
“Dah, yuk, Je! Biarin
aja si Kurus Nana nggak makan setahun. Ndut
tapi sehat kali.”
Nah kan ngambeknya Tina sudah mulai
beraksi. Sambil menggandeng tangan Jeje mereka berdua meninggalkanku sendirian
di kelas. Ya benar-benar sendirian karena tak ada lagi makhluk lain selain aku.
Sebenarnya perutku keroncongan juga,
apa lagi tadi sarapanku diserobot kak Doni sehingga jatahku jadi sedikit. Tapi, jika aku jajan di kantin pasti nanti berpapasan dengan
penjual Apam itu. Ih… sebel
sebenarnya. Sudah semingguan ini penjual apam itu terus menawariku kue apamnya,
padahal aku sama sekali tak menyukai kue itu.
Bagiku nggak
level makan kue kampung, apa lagi menawari di depan Tina ama Jeje. Kenapa sih
harus aku yang selalu di tawari, nggak ke
Tina saja yang segalanya dimakan. Mengingat hal itu aku menjadi bertambah sebel
dan perutku semakin mules karena lapar.
Tiba-tiba dari arah pintu muncul sosok
tubuh seperti si penjual kue itu. Benar, ternyata dia yang muncul di depan
pintu seakan mencari-cari sesuatu. Dia melihatku dan tersenyum sambil sekali
lagi menawarkan kue noraknya itu.
“Adek, tidak beli kue Apam ya?” tanyanya sambil tersenyum.
Kemarahanku rasanya sudah sampai
diubun-ubun. Aku tidak ke kantin walau perutku kelaparan karena untuk
menghindarinya, eh, dianya yang datang ke kelasku.
“Acil,
saya tak ingin membeli kue apam, Cil,”
ucapku dengan keras.
“Oh.... Tapi, adek
kan lapar. Tidak
usah beli deh, ini acil beri
untuk adek,” ucap penjual itu sambil berjalan ke arahku.
Aku berdiri dari bangkuku dan berjalan
ke arah yang berlawanan untuk menghindari penjual itu
mendekatiku. Dan kemarahanku pun semakin memuncak. Aku berjalan ke arah pintu
kelas untuk keluar.
“Acil,
aku nggak doyan sama kue kampungan yang acil jual. Kenapa sih memaksa saya terus, Cil,”
kataku sambil berlalu keluar kelas menuju ke kantin menyusul Tina dan Jeje. Tak
kupedulikan wajah penjual itu yang terlihat sedih. Aku sudah muak dengannya. Aku
sangat marah.
Ternyata kemarahanku itu menjadi sebuah
ketakutan bagiku sebab saat pulang sekolah aku merasa ada seseorang yang
mengikuti sepanjang jalan. Aku mencoba menengok ke belakang tetapi tak
kutemukan wajah-wajah mencurigakan di belakangku.
Hanya beberapa adik kelasku yang cekikikan entah membicarakan apa. Tetapi, perasaanku yang ketakutan membuat aku mempercepat langkah
agar segera sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, tanpa
salam dan tanpa ketuk pintu aku segera masuk dan mengunci pintu. Ibu terkejut
bukan main ketika aku masuk ke rumah seperti itu.
“Nana, kamu buat ibu terkejut. Mana
sopan santunnya, mana salamnya , mana ketukan pintunya. Kenapa kamu, Na?”
Berondongan pertanyaan meluncur dari mulut ibu.
Aku hanya tersenyum sama ibu dan
bergegas ke kamar. Aku mendengar suara pintu di buka. Mungkin ibu keluar dan
melihat di depan rumah untuk memastikan aku tak mengalami kejadian apa-apa.
Dadaku masih berdebar dengan detakan
jantung yang hebat. Apa memang benar ada yang mengikutiku? Sepertinya tak ada. Tetapi, mengapa perasaanku sangat tak tenang ?
Aku mengganti seragamku dan ingin ke
dapur untuk mengambil segelas air putih, siapa
tahu dapat memberiku sedikit ketenangan dengan meminumnya. Ketika aku membuka
pintu kamar, sayup-sayup terdengar suara ibu seperti berbicara dengan seseorang
di depan pagar rumah.
Berjingkat aku mendekati jendela ruang
tamu. Ups… ternyata ibu berbicara dengan acil penjual wadai.
Samar-samar terdengar suara ibu yang meninggi. Ada apa dengan ibu, kenapa ibu
memarahi acil tersebut?
“Harusnya kita sudah sepakat dengan hal
ini, acil Rahma. Belum
saatnya kita memberitahu dia. Dia belum lulus SMP. Biarkan dia 3 tahun lagi, setelah lulus SMA kita akan
membicarakannya. Jangan acil
mengganggu dia lagi, bisa jadi kejiwaannya akan terguncang untuk saat ini,”
kata ibu dengan suara yang seperti berbisik.
Aku cukup jelas mendengarnya karena
jarak pintu pagar dengan jendela ruang tamu tak begitu jauh. Sepertinya mereka
membicarakanku atau siapa?
“Maafkan saya, Ibu Haji. Saya
tak bermaksud menakutinya atau mengambilnya kembali dari ibu. Hanya beberapa
hari ini saya sedemikian rindu padanya,” suara sang acil diiringi isak tangis.
Aku segera ke dapur dan tak lagi
melanjutkan acara ngupingku. Aku takut ibu mengetahui dan memarahiku, karena
tak sopan menguping pembicaraan orang lain. Ibu
bakalan marah dan melaporkan hal itu ke ayah.
Aku kembali ke kamar. Dalam
benakku kembali menari-nari percakapan ibu dengan acil penjual wadai.
Siapakah yang dimaksud itu? Apakah
aku?
Ah... perasaan tak enak
semakin menjadi-jadi. Haruskah
aku bertanya kepada ibu?
Tidak! Itu akan membuat ibu tahu bahwa aku menguping pembicaraan tadi. Ah... sudahlah. Aku
tidak mau memikirkan lagi. Toh cuma pembicaraan seorang penjual kue Apam.
Keesokan hari ketika jam istirahat
tiba, aku yang antusias mengajak Tina dan Jeje ke Kantin. Tina tak ngambek dan
cemberut lagi sebab hari ini aku menjanjikan untuk mentraktir mereka berdua.
Wajah ceria Tina kembali merekah.
Ketika melewati tempat biasanya penjual
kue itu berada, tak terlihat lagi acil
penjual wadai. Mataku liar ke sana kemari mencari acil
tersebut. Dia sama sekali tak terlihat. Seharusnya aku merasa senang karena tak
ada lagi yang menggangguku dengan menawari kue apa itu. Tetapi, kenapa ya hari ini aku ingin sekali melihatnya?
Dan anehnya, mengapa hari ini aku
kepingin makan kue apam?
Keterangan
Acil :
Bibi
Wadai : Kue
Apam :
Kue khas dari Hulu Sungai Tengah, Kalsel
Biodata Penulis:
Imam
Dairoby Mashur seorang karyawan swasta yang banyak menghabiskan hampir
seperempat usia melanglang buana ke pulau-pulau Nusantara. Terlahir dari orang
tua Jawa tapi dibesarkan di Manado. Menelusuri kehidupan dari Pulau Sulawesi,
Maluku, Papua dan sementara berkarya di bumi Borneo. Selebihnya bisa follow twitter @idairoby, IG @imashur, FB
Imam dairoby mashur

Thanks Readzone....
BalasHapusSama-sama Pak Imam
BalasHapus