Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 07 Mei 2016

CERPEN IMAM DAIROBY MASHUR: ACIL PENJUAL APAM


Bel tanda istirahat berbunyi, membuyarkan seluruh murid-murid di SMP Favorit di kotaku. Demikian juga kelasku, suara senyap berganti dengan riuhnya suara teman-temanku. Suara Pak Dudung guru IPA-ku tak terdengar lagi olehku. Padahal tadi sempat akan memberikan PR yang akan dikumpulkan minggu depan.
Kernyit pak Dudung nampak semakin terlihat ketika kami semua semakin tak sabar ingin keluar kelas. Selama 2 jam pelajaran mendengarkan suara pak Dudung saja rasanya seperti seharian penuh. Aduh aku merasa lebay deh untuk hal ini. Sambil menggeleng-geleng kepala pak Dudung beranjak meninggalkan kelas diikuti teman-teman yang sudah tak sabar ingin keluar kelas.
Hari ini aku rasanya malas keluar kelas. Ajakan Tina dan Jeje untuk jajan di kantin sekolah kutolak. Walau dengan rengekan yang khas dari Jeje, ajakan itu tetap kutolak.
“Kamu kenapa sih, Na, tumben nggak mau jajan ke kantin?” rengek Jeje.
”Berdua aja gih, aku lagi males rasanya. Lagian aku masih kenyang nih. Aku kan nggak mau ndut kayak si Tina,” selorohku sambil ngelirik lucu ke Tina.
Tina memonyongkan mulutnya. Dia paling tidak suka dikatain ndut. Dan bisa ngambek berhari-hari bila kata itu ditujukan padanya.
Dah, yuk, Je! Biarin aja si Kurus Nana nggak makan setahun. Ndut tapi sehat kali.
Nah kan ngambeknya Tina sudah mulai beraksi. Sambil menggandeng tangan Jeje mereka berdua meninggalkanku sendirian di kelas. Ya benar-benar sendirian karena tak ada lagi makhluk lain selain aku.
Sebenarnya perutku keroncongan juga, apa lagi tadi sarapanku diserobot kak Doni sehingga jatahku jadi sedikit. Tapi, jika aku jajan di kantin pasti nanti berpapasan dengan penjual Apam itu. Ihsebel sebenarnya. Sudah semingguan ini penjual apam itu terus menawariku kue apamnya, padahal aku sama sekali tak menyukai kue itu.
Bagiku nggak level makan kue kampung, apa lagi menawari di depan Tina ama Jeje. Kenapa sih harus aku yang selalu di tawari, nggak ke Tina saja yang segalanya dimakan. Mengingat hal itu aku menjadi bertambah sebel dan perutku semakin mules karena lapar.
Tiba-tiba dari arah pintu muncul sosok tubuh seperti si penjual kue itu. Benar, ternyata dia yang muncul di depan pintu seakan mencari-cari sesuatu. Dia melihatku dan tersenyum sambil sekali lagi menawarkan kue noraknya itu.
“Adek, tidak beli kue Apam ya?” tanyanya sambil tersenyum.
Kemarahanku rasanya sudah sampai diubun-ubun. Aku tidak ke kantin walau perutku kelaparan karena untuk menghindarinya, eh, dianya yang datang ke kelasku.
Acil, saya tak ingin membeli kue apam, Cil,” ucapku dengan keras.
“Oh.... Tapi, adek kan lapar. Tidak usah beli deh, ini acil beri untuk adek,” ucap penjual itu sambil berjalan ke arahku.
Aku berdiri dari bangkuku dan berjalan ke arah yang berlawanan untuk menghindari penjual itu mendekatiku. Dan kemarahanku pun semakin memuncak. Aku berjalan ke arah pintu kelas untuk keluar.
Acil, aku nggak doyan sama kue kampungan yang acil jual. Kenapa sih memaksa saya terus, Cil,” kataku sambil berlalu keluar kelas menuju ke kantin menyusul Tina dan Jeje. Tak kupedulikan wajah penjual itu yang terlihat sedih. Aku sudah muak dengannya. Aku sangat marah.
Ternyata kemarahanku itu menjadi sebuah ketakutan bagiku sebab saat pulang sekolah aku merasa ada seseorang yang mengikuti sepanjang jalan. Aku mencoba menengok ke belakang tetapi tak kutemukan wajah-wajah mencurigakan di belakangku. Hanya beberapa adik kelasku yang cekikikan entah membicarakan apa. Tetapi, perasaanku yang ketakutan membuat aku mempercepat langkah agar segera sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, tanpa salam dan tanpa ketuk pintu aku segera masuk dan mengunci pintu. Ibu terkejut bukan main ketika aku masuk ke rumah seperti itu.
“Nana, kamu buat ibu terkejut. Mana sopan santunnya, mana salamnya , mana ketukan pintunya. Kenapa kamu, Na?” Berondongan pertanyaan meluncur dari mulut ibu.
Aku hanya tersenyum sama ibu dan bergegas ke kamar. Aku mendengar suara pintu di buka. Mungkin ibu keluar dan melihat di depan rumah untuk memastikan aku tak mengalami kejadian apa-apa.
Dadaku masih berdebar dengan detakan jantung yang hebat. Apa memang benar ada yang mengikutiku? Sepertinya tak ada. Tetapi, mengapa perasaanku sangat tak tenang ?
Aku mengganti seragamku dan ingin ke dapur untuk mengambil segelas air putih, siapa tahu dapat memberiku sedikit ketenangan dengan meminumnya. Ketika aku membuka pintu kamar, sayup-sayup terdengar suara ibu seperti berbicara dengan seseorang di depan pagar rumah.
Berjingkat aku mendekati jendela ruang tamu. Ups… ternyata ibu berbicara dengan acil penjual wadai. Samar-samar terdengar suara ibu yang meninggi. Ada apa dengan ibu, kenapa ibu memarahi acil tersebut?
“Harusnya kita sudah sepakat dengan hal ini, acil Rahma. Belum saatnya kita memberitahu dia. Dia belum lulus SMP. Biarkan dia 3 tahun lagi, setelah lulus SMA kita akan membicarakannya. Jangan acil mengganggu dia lagi, bisa jadi kejiwaannya akan terguncang untuk saat ini,” kata ibu dengan suara yang seperti berbisik.
Aku cukup jelas mendengarnya karena jarak pintu pagar dengan jendela ruang tamu tak begitu jauh. Sepertinya mereka membicarakanku atau siapa?
“Maafkan saya, Ibu Haji. Saya tak bermaksud menakutinya atau mengambilnya kembali dari ibu. Hanya beberapa hari ini saya sedemikian rindu padanya,” suara sang acil diiringi isak tangis.
Aku segera ke dapur dan tak lagi melanjutkan acara ngupingku. Aku takut ibu mengetahui dan memarahiku, karena tak sopan menguping pembicaraan orang lain. Ibu bakalan marah dan melaporkan hal itu ke ayah.
Aku kembali ke kamar. Dalam benakku kembali menari-nari percakapan ibu dengan acil penjual wadai. Siapakah yang dimaksud itu? Apakah aku?
Ah...  perasaan tak enak semakin menjadi-jadi. Haruskah aku bertanya kepada ibu?
Tidak! Itu akan membuat ibu tahu bahwa aku menguping pembicaraan tadi. Ah... sudahlah. Aku tidak mau memikirkan lagi. Toh cuma pembicaraan seorang penjual kue Apam.
Keesokan hari ketika jam istirahat tiba, aku yang antusias mengajak Tina dan Jeje ke Kantin. Tina tak ngambek dan cemberut lagi sebab hari ini aku menjanjikan untuk mentraktir mereka berdua. Wajah ceria Tina kembali merekah.
Ketika melewati tempat biasanya penjual kue itu berada, tak terlihat lagi acil penjual wadai. Mataku liar ke sana kemari mencari acil tersebut. Dia sama sekali tak terlihat. Seharusnya aku merasa senang karena tak ada lagi yang menggangguku dengan menawari kue apa itu. Tetapi, kenapa ya hari ini aku ingin sekali melihatnya?
Dan anehnya, mengapa hari ini aku kepingin makan kue apam?

Keterangan
Acil        : Bibi
Wadai  : Kue
Apam    : Kue khas dari Hulu Sungai Tengah, Kalsel


Biodata Penulis:
Imam Dairoby Mashur seorang karyawan swasta yang banyak menghabiskan hampir seperempat usia melanglang buana ke pulau-pulau Nusantara. Terlahir dari orang tua Jawa tapi dibesarkan di Manado. Menelusuri kehidupan dari Pulau Sulawesi, Maluku, Papua dan sementara berkarya di bumi Borneo. Selebihnya bisa follow twitter @idairoby, IG @imashur, FB Imam dairoby mashur



2 komentar:

Statistik Pengunjung

Flag Counter