Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 04 Juni 2016

CERPEN MUHAMMAD RIFKI: TAK ADA UNGU YANG MENCOKLAT




Aku memang menyukaimu sejak dulu, Saudah. Aku memang menyukaimu, tak pernah bisa menepis mudah perasaan itu. Kau gadis ungu yang terlalu memikat, menjerat, seperti mengurungku dalam rantai besi.
Sampai kita lulus bersama, perasaan itu masih terbungkus rapi terselip di hatiku. Sayang kau tak pernah mengetahuinya. Ya, Saudah, kita waktu itu hanya sebatas teman dekat. Kau mungkin juga tak tahu, mengapa aku memilih sekolah yang sama sepertimu, Ponpes Al Falah ini. Percayalah, sebenarnya aku tak pernah punya alasan logis untuk memilih sekolah ini. Tentunya kau mesti tau, alasanku sebenarnya adalah kau, Saudah. Ya, karena kau juga sekolah di Ponpes Al Falah. Sayangnya, semua usaha ini tak pernah seperti oase padang pasir. Semua percuma. Kau bahkan tak kunjung mengingatku.
Hingga hari itu tiba, aku nekad menemuimu di penjara suci Al Falah Puteri. Ketika itu langit sedang urung mencercahkan cahaya, mempersilakan angin memburu tanpa arah, menyerangku, menyelimuti utuh tubuhku hingga menggigil. Sampai mendung menemuiku di sana, kau tetap tak kunjung datang dan malah ikut membuat hatiku mendung. Hingga kesekian menit berlalu, kau baru datang dengan jilbab bermotif anggrek warna ungu. Perlahan mendekat, mengukur jarak duduk di sampingku. Entah mengapa, kala itu percakapan antara kita amat surut, tak deras mengalir. Seolah-olah bongkah kata teramat berat mengantung di lidah dan tak jatuh-jatuh. Dan kau, dengan gaya sinis menanggapiku dengan helaan nafas berat. Ya Tuhan, entah mengapa percakapan itu sangat sulit diluncurkan. Satu kata terlontar dan mesti lima menit menunggu jawaban dan tanggapanmu. Kau sama sekali tak menghargaiku yang mengunjungimu waktu itu, menganggapku bagai sekadar radio yang membising, teracuhkan.
Maka aku pulang sambil menyeret luka lebam di hati. Niat baik itu percuma, perasaan yang subur itu juga percuma, sudah layu sore itu. Dan hingga kesekian kalinya aku menyesal berharap padamu.


3 Januari 2015
Berhari-hari aku berdamai dengan semua luka yang kau buat, Saudah. Berusaha berbaikan dengan segala perasaanku, meredamnya kuat-kuat, menikamnya keras. Sayangnya, malah membuatku semakin terpuruk.
Hanya kosong, hampa, tak ada apa-apa di hatiku.
Hati kecilku tersiksa, Saudah. Tersiksa!
Hari berlalu seperti memainkan film yang membosankan, terulang-ulang sangat membosankan. Ya, begitulah skenario baru hidupku. Hari itu aku memaksa benakku melupakanmu, agar tak ada lagi yang menghantui. Ketika itu aku pergi ke rumah Reiza, temanku di pesantren yang tidak mukim. Bermalam di sana, sekadar bersenang-senang sesaat bersamanya, berharap semoga saja perasaan itu bisa terseret hilang. Aku tak pernah menduga, tak pernah, Saudah. Kau tau? Saat di sana itulah awal aku mengenal dia, si gadis coklat.
Aku dan Reiza berada di satu kamar yang sama, sibuk masing-masing. Aku menonton film sedang dia asyik menelpon seorang gadis. Amat dekat, amat mesra. Ya Tuhan, pemandangan  itu sontak mengundang perasaan tentangmu itu sekejap memburuku. Iri. Tidak.! Aku tak peduli! Sayangnya, kala itu hatiku begitu lemah untuk sedikitpun  tidak memedulikannya. Dan di sela-sela cengkerama mereka, entah mengapa Reiza menyerahkan telpon itu, mempersilakanku bicara padanya. Aku pun berkenalan dengannya, perkenalan singkat sih. Aku Rifki dan dia Rilda. Kami juga berbicara seadanya, bergurau asyik sebentar dan telpon pun berakhir. Reiza mengambilnya kembali.
Kau tau, Saudah? Sejak hari itu, luka-luka di hatiku karena ulahmu perlahan mengecil. Terobati sedikit demi sedikit. Dan gadis yang baru kukenal itu seolah memberi secercah cahaya.
Akankah ini mulanya kembali cintaku? Entahlah.


13 Juni 2015
Kami akhirnya bertemu, Saudah.
Di antara pepohonan pinus yang saling berjejeran, sebelum potongan senja menyeruak di langit-langit, kami bertemu di sana.  Duduk bersisian, bercengkerama mesra dan sempurna semua ingatan tentangmu berhasil kupangkas habis.
Sejak kali pertama kami saling mengenal, hari-hariku terus digerogoti rasa ingin  mengenalnya lebih hingga aku nekad menghubunginya sendiri. Kami pun lalu mengenal lebih dekat. Semakin akrab sampai tanpa dia sadari, bibit-bibit perasaan cinta juga kutanam untuknya. Hingga kami pun bertemu di taman pinus itu. Saling menyapa, mata berkedip. Saling melempar senyuman. Dan aku tanpa tanggung menyerahkan selembar kertas untuknya, malu-malu menyembunyikan wajahku usai kertas itu dia terima.
Kau tau, Saudah. Dia tersenyum. Gadis itu lantas bersalah tingkah padaku. Paras anggunnya memerah dan tanpa hitungan persekian detik, dia langsung memelukku seraya berucap lirih, “aku juga mencintaimu.”
Tepat ketika potongan jingga melambung di langit-langit, kami pun pulang dengan sepasang hati yang terikat. Dia gadis coklatku.


24 Juni 2015
Ini cerita baruku, Saudah. Usai segala perasaan tentangmu itu kupangkas habis.
Sayangnya, ketika aku sudah nyaman dengan semua ini, ketika aku sudah terbiasa melupakanmu, entah mengapa, mendadak masa lalu tentangmu itu menyergapku dan kembali menindih.
Ini terjadi ketika para santri di pondok kita berlibur Ramadhan, pulang ke kampungnya masing- masing. Aku pulang dan kau pun juga. Tentunya, tanpa disengaja, cepat atau lambat kita akan bertemu, bukan? Benar. Ketika itu, kita dipertemukan di sebuah Sekolah Dasar, pertemuan yang tanpa disengaja kita dahulu. Maka, seketika masa lalu itu seperti tercungkil paksa kembali. Berkali-kali aku bersusah payah membuangnya, namun percuma. Kita bertemu, berbicara seadanya. Perbincangan yang menyenangkan. Ah, Saudah, kau tetap seanggun dulu. Lalu, saat kita hampir berpisah, saat pertemuan itu hampir usai, kau pun meminta untuk bertemu lagi di sebuah taman.
Aku mengangguk dan kau pun tersenyum.
Maka kita pun bertemu kembali di taman sesuai pintamu. Kau menunggu di sana dengan baju ungu bermotif anggrek. Sepasang lesung pipitmu ikut melengkapi senyummu.
Kali itu aku datang tidak sendirian, ditemani seorang temanku, Faris. Dan pertemuan di taman itu terangkai begitu nyaman sesantai hembusan angin di antara kerling pagi. Kau juga terlihat cepat akrab dengan Faris. Sayangnya, entah mengapa, semua itu membuat perasaanku mendidih. Aku tak mengerti.
Kemarin, ketika perjumpaan kita pertama, aku mencoba lagi mengutuhkan kembali semua perasaanku yang telah retak. Berharap ingin mengulang kembali semuanya dari awal. Mungkin tidak. Kau tau, usai pertemuan di taman itu, Faris selalu bertanya padaku tentangmu. Bercerita tentangmu. Kupikir ia juga menyukaimu, Saudah. Meski seringkali kau mengatakan padaku bahwa kalian hanya berteman. Bohong, aku tau kau itu berbohong. Serentak, tiba-tiba semua perasaan yang mulai terbangun kembali itu membusuk seketika.
Memang, mungkin tak pernah ada ungu di hidupku.


11 September 2015
He, aku salah, ya Sudah, aku memang salah berharap padamu. Untuk apa? Percuma saja aku berharap pada orang yang sama sekali tak pernah peduli padaku, hanya seperti orang-orangan sawah. Terasingkan sendiri, tak dipedulikan, hanya teracuhkan di tengah sawah. Sudahlah, Saudah.
Sejak itu, aku mulai kembali belajar untuk melupakanmu. Mengobati luka-luka yang kau buat itu dengan gadis coklat. Oya, sejak itu, aku dan dia sudah seutuh sepasang hati. Hari-hari penuh cinta, penuh sayang, dan gadis itu benar-benar bisa mengubur segala tentangmu. Dan kami persis seperti bait-bait puisi romantis Romeo.
Maka, aku pun belajar tulus untuk mencintainya, Saudah. Sayang, aku tak pernah menyangka, sama sepertimu. Ketika itu, aku pergi bersamanya, melaju berdua di atas kendaraan. Dia memelukku erat, melingkarkan tangannya yang berlapis lengan baju coklat. Mesra. Hingga kami pun singgah di sebuah teduhan pohon. Duduk berseberangan, menatap satu sama lain. Lalu aku pergi sebentar untuk membelikannya minuman coklat. Dan saat aku ingin menyerahkan minuman coklat itu padanya, gadis coklatku itu sedang asyik di sana, memainkan jari-jarinya di atas layar segi empat. Senyum-senyum sendiri. Ketika kutanya, dia hanya menjawab itu cuma dari teman laki-lakinya. Teman? Ya Tuhan, tapi itu laki-laki. Bukankah tadi dia senyum-senyum, bahkan sempat kuintip  begitu jelas parasnya memerah semangka. Meski begitu, aku hanya menanggapinya sok tegar, sok tak peduli, bersandiwara setegar mungkin menyembunyikan sembilu sedih yang merobek hatiku.
Dia tak pernah tau, Saudah. Padahal aku telah setulus mungkin mentautkan hati untuknya. Selalu baik, selalu tersenyum, selalu perhatian, bahkan sok tegar, pura-pura tak cemburu. Dan dia begitu mudah menelan semua itu tanpa memedulikanku atau sekadar mengerti.
Sekarang aku ragu, apa coklat itu akan sama sepertimu.
***
Akhirnya aku selesai menuliskan ceritaku hari ini di buku harian. Cerita yang tak pernah rampung. Setahun terakhir aku seolah menghilang begitu saja, lenyap tiba-tiba dan menghindari semuanya. Tidak untuk gadis bertudung ungu atau si gadis coklat. Sebab, aku hanya ingin sendiri. Setelah lulus dari Ponpes Al falah, aku bahkan benar-benar memulai segalanya dari titik putih tanpa warna. Setahun penuh tak tahu kabar Rilda ataupun Saudah.
Dan pagi tadi, seseorang mendadak menemuiku. Ia perempuan, katanya sih teman dekat Rilda, namanya Ningrum. Dengan wajah kusut ia memukulku. Tak teratur mengendalikan nafas, tersengal-sengal bercerita padaku.
“Kau... kau… kau harus menemuinya, Rif. Harus! Apa kau masih sayang padanya?” Perempuan itu membuatku menelan ludah. Masih sayang? Rilda? Tentu.
“Ya, aku masih sangat mencintainya…”
“Kau bodoh! Lelaki bodoh! Setahun terakhir kau hilang tanpa pamit. Menyiksanya dengan penantian yang bagai cuaca, tak pernah menentu. Kau tau, Rif, ia bahkan sempat menemui Saudah, ingin membunuhnya. Ia pikir kau bersama Saudah.
“Tidak, Rif, hingga tak ada pilihan lain, laki-laki itu pun datang. Aku tak pernah menyangka, tak pernah tau bahwa mereka saling mengenal.
“Sore ini, mereka akan menikah dan minggu depan baru resepsinya. Rif, kau harus menemuinya, bicara padanya….” Gadis itu tersedak bercerita.
“Siapa  laki-laki itu?” suaraku terdengar pelan, bergetar.
“Faris.”
“Apa!?” Aku tercekat begitu menegetahuinya.
Mendadak rentetan kenangan itu bertubi-tubi menimpukku. Aku teringat kembali tentang pertemuan waktu itu, tentang teman laki-lakinya itu, berarti itu Faris.
Ah, mungkin benar, tak ada ungu untukku, juga tak ada coklat. Memang tak ada ungu yang mencoklat.
“Kau masih sempat, Rif.”

Maibelopah, 14 Desember 2015




Biodata Penulis
Muhammad Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13 Agustus 1998. Usai lulus dari sekolah dasar, lalu melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren Al Falah Putera dan di sana ia membangun sebuah organisasi tulis menulis Forum Pena Pesantren/FPP.  Ingin mengenalnya lebih, bisa melalui akun facebook ; Maibe Lopah atau email rifkimaibelopah@gmail.com
; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter