Puisi
I
BULAN YANG TENGGELAM DI
PELABUHAN
malam yang kaubawa ketika
kau tiba di pelabuhan adalah
bulan yang kupelihara dalam
gendong punggungmu.
dari parasmu yang terus
melangkahkan tepian malam
ada bulan yang kulihat tersenyum.
katamu, “Perlahan bulan ini
akan tenggelam di pelabuhan ini.
Dan ia akan bersua ‘Selamat jalan’.”
tapi aku tetap tak berhenti melihat bulan
itu.
cahaya-cahayanya sedikit redup.
dan bulan itu tak tenggelam,
ia masih menetap di punggungmu yang
rentah.
kalian menunda pagi hingga perjalanan
di pelabuhan ini tak bisa berangkat.
Pelabuhan
Sastra | 2016
Puisi
II
KUTANGISI SENJA
mencari jalan buntu untuk mati.
tergeletak di antara judul-judul puisi.
meneriaki kata-kata yang terlumpah
di senja dengan bahasa basi.
langit yang bisu menyumpah
serapahkan air mata.
ingin kubunuh langit dan awan yang
berkembang di matamu yang awam
hidup memanglah puisi yang semakin hari,
semakin mati.
jalan di ujung puisi ini ada rumah
yang tak tampak.
samar bersama metafora milik senja
yang tak menginginkan matamu
memandangnya dengan sinis.
ah, sudahlah akan kutangisi senja
bila puisi-puisiku tidak membaik.
Senja
Sastra | 2016
Puisi
III
MALAM
SESAT
pukullah waktu
yang tak pernah sempat
membangunkanmu
pada pukulnya yang tepat
dalam puing-puing malam
yang menyurukkan rasa hati-
hatimu memilih jalan.
bawalah kompas sesat ini!
tunjukkan pada cahaya bintang
yang fana
bahwa jalanmu telah benar.
Jalan
Sastra | 2016
BIODATA
PENULIS:
Muhammad de Putra. Kelahiran 14 April 2001.
Siswa kelas VIII SMPN 6 Siak Hulu, Kampar. Puisi-puisi telah tersebar di
pelbagai Media Massa di Indonesia. juara 1 lomba Cipta Puisi di Bulan
Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, Juara 1 Cipta Puisi di Praktikum Sastra UR
tingkat SMP se-Riau, Harapan 2 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat
SMP se-Indonesia & Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional seluruhnya
Penyair Muda yang ditaja oleh Sabana Pustaka. Bukunya yang telah terbit
Kepompong dalam Botol & Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan, Sedang
meramu buku puisi tunggalnya yang ke-3
Hikayat Anak-anak Pendosa. Puisinya juga termaktub dalam beberapa
antologi seperti: Merantau Malam (Sabana Pustaka, 2016), TeraKota
(Liliput, 2015), Tunak Community Pena Terbang (COMPETER). Berdomisili di
Pekanbaru. FB: Muhammad De Putra

