Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 27 Agustus 2016

CERPEN YUDITEHA: HM


Ketika aku tak bisa menjawab sebuah pertanyaan, aku berlari kepadamu. Pasrah pada anggapan kalau aku tak berani menempuh risiko yang bisa menghempaskanku pada kehampaan. Dan saat aku hendak melakukan sesuatu tapi tak kunjung kudapati lakunya, aku juga pergi kepadamu. Siapa tahu segalanya akan berlalu tanpa aku harus bertindak. Cara ini jadi kebiasaanku untuk melarikan diri agar aku tak pernah kehilangan muka dan pikiran sehatku.

Aku berkelakar, karena bukan mustahil bila kecintaanku terhadap prinsip-prinsip praktis ini akan melanggengkanmu untuk kesejahteraan hatiku. Lalu aku harus berpihak kepada siapa saat kutahu privasiku disadap? Tentunya aku juga ingin mengamankan diri dan bersembunyi di belakangmu lalu menyodorkanmu sebagai tameng atas segala yang kupikirkan.
Tentu saja aku tidak khilaf, karena aku sadar telah menjadikan dirimu sebagai bagian terpenting dalam kehidupanku, terlebih saat aku terpojok. Pada saat aku berada pada posisi itu akan kusebut-sebut dirimu berulang, dan tak peduli, meski perkataanku akan terjeda oleh pertanyaan yang memihak. Sejujurnya aku benci jawaban matematis karena kepastian bagiku akan membosankan. Tapi akan berbeda jika jawaban itu memang sudah melalui penelitian dulu. Saat aku menggunakanmu, mungkin memang sulit menghindari kesan aku terlihat bodoh. Ini bukan kecongkaan, karena semuanya yang kuucap akan terbaca oleh kenyataan hingga kenyataan itulah yang pada akhirnya menempatkanku dalam jajaran pekerja yang lumrah.
Aku meyakinkan diri sendiri bahwa kemalangan bisa datang kapan saja. Tapi ijinkan aku untuk tetap menjadi bagian dari kehidupan nyata, meski seringkali apa yang aku lakukan memberi kesan tak serasinya wajahku dengan mulutku. Aku tak akan berkecil hati karenanya, sebab hampir semua orang pernah memaknaimu menurut kepentingannya sendiri-sendiri. Toh aku menggunakanmu sewajarnya saja. Tak berlebihan. Juga tak ada keinginanku untuk mengambing-hitamkan dirimu dalam jebakan dusta. Jika pun aku berdusta, pasti untuk keperluan yang berbeda dan untuk kasus begini aku siap menanggungnya sendiri tanpa kuikut sertakan dirimu. 
Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu, karena kamu selalu bisa membuat aku selamat dari segala macam desakan diplomatik yang sering menyerangku. Ada pula yang mengatakan kalau aku lucu saat memakai dirimu. Dan adakalanya kelucuan-kelucuan itu bisa menepis penderitaan rakyat yang tak kunjung reda. Hingga menempatkan aku pada birokrasi yang cukup ternama. Tapi kelucuan itu terkadang juga bisa membangkitkan amarah kawan-kawan sesama dewan yang ada di balai sidang. Mungkin karena ucapanku dianggap seperti menelanjangi mereka. Hingga hal itu bisa membuatku  grusa-grusu mengambil keputusan dengan dalih atas nama rakyat.
Pendek kata, aku tak bisa berpisah denganmu. Aku akan terus memakaimu karena dirimu adalah sarana untuk mengungkapkan kebenaran sejati. Kebenaran dalam hal apa pun tentang negeri ini: pengakuan sepihak, pelanggaran teritorial, penyadapan, pelecehan nama baik, dan masih banyak lagi. Dan bisa juga perihal pertikaian.
Siapa yang tak punya kenangan? Aku yakin semua punya. Demikian pula dengan diriku. Pada saat berbicara seringkali aku harus memperhatikan bagian mana yang tidak perlu aku ceritakan dan pada saat itu juga biasanya aku pergi kepadamu. Bersandar pada keanggunanmu untuk memercayakan kenanganku agar tidak terkoyakkan oleh emosiku karena tuduhan-tuduhan semu yang ditujukan kepadaku.
Jangan berpikir aku gila karena orang gila biasanya melakukan dua hal. Pertama, orang gila biasanya akan mudah berkata-kata. Cenderung tanpa rem. Semua meluncur begitu saja tanpa sadar. Bahkan seringkali tak pernah tahu apa yang dikatakan itu akan menyakiti orang lain atau tidak.  Tak segan-segan dia juga bisa mengatakan kata seronok atau sumpah serapah. Sedangkan aku justru pada saat aku lari kepadamu itu karena di dalam diriku ada kesadaran penuh. Sadar untuk tidak berkata-kata sembarangan atau sekadar berujar saru atau umpatan.
Kedua, jika tidak banyak bicara, biasanya orang gila akan diam seribu bahasa. Tak pernah mengucapkan satu kata pun. Kalau toh bicara mungkin hanya satu huruf saja yang dipakai. Dan ada tentu saja ada lima huruf vocal yang biasanya dipakai oleh orang gila jenis begini, yaitu huruf A, I, U, E dan O.
Selain semua yang kukatakan, ada satu hal lagi yang perlu diketahui, yaitu setiap kali ada yang aku sembunyikan di balik keberadaanmu, sesungguhnya aku tak pernah berniat berbohong, karena pada akhirnya aku akan menuliskannya. Dalam tulisan itu aku melakukan keterbukaan, bahkan terkadang melakukan analisa matematis dulu dan jika perlu menyajikan ulasan statistik, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Pendek kata kalau dalam tulisan resmi tentu saja tidak akan aku ikutkan dirimu. Karena jika ada dirimu di sana tentu akan benar-benar menjadi tulisan lucu. Dan mungkin bisa dianggap tidak serius atau bisa jadi akan dianggap tulisan itu tidak berguna.
Maka dari itu aku tekankan lagi bahwa secara harafiah, di dalam tulisan yang bersifat formal aku tak akan menggunakanmu. Jangan salah. Aku tidak murtad, juga tidak berkhianat terhadapmu karena bagiku meski kau tak muncul dalam tulisanku tapi sebenarnya dirimulah roh yang menjadikan tulisanku menjadi hidup. Pada saat aku mengeja kata dalam sebuah tuts, kau yang selalu kuminta untuk menemaniku hingga tulisanku selesai sampai titik. Jadi, meski bagaimanapun caranya aku berbicara, sejujurnya dirimu selalu menyertaiku. Terlebih saat aku menyusun teks-teks pidato kenegaraan yang menuntut kesempurnaan kata. Tepat, benar, serasi, selaras dan jika perlu elegan.
Hm, tapi bolehlah sesekali kau kupakai dalam tulisan. Tapi tentu saja hanya untuk tulisan yang tidak resmi, seperti yang kulakukan di awal paragraf ini. Terima kasih.

Biodata
Yuditeha. Penulis segala dan pegiat Sastra Alit Surakarta. Penyuka bakpia dan onde-onde.



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter