Pada
suatu hari Ruspandi dan Rahimah, sepasang suami-istri merasa beruntung sekali
bisa menunaikan ibadah haji, setelah menyisihkn uang gaji sebagai PNS dan guru mengaji
selama 20 tahun.
Hari
berangkat sudah diketahui, tepatnya seminggu lagi. Kedua suami istri itu nampak
tenang-tenang saja. Berbeda dengan pasangan lainnya yang juga akan berangkat haji
yang rata-rata sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk bekal di perjalanan. Misal
Udin, telah menyiapkan pakasam buat
makan, Ubaidillah menyiapkan iwak rabuk dari haruan, Juhai menyiapkan mandai wan iwak talang, Julak Ami menyiapkan wadi papuyu wan hintalo bajaruk.
Keberangkatan
pun tiba. Nasib naas menimpa kawan-kawan Ruspandi yang telah mempersiapkan
bawaan ke Tanah Suci sebab petugas melarang membawa barang-barang bawaan yang
merepotkan apalagi yang menimbulkan bau "aneh", seperti pakasam dan wadi.
"Barang-barang
di tasmu tidak ada yang ditinggal petugas?" tanya Pembimbing Ibadah kepada
Ruspandi.
"Tidak.
Sebab kami memang tidak membawa apa-apa," ucap Ruspandi.
"Betul,
Pak," timpal istri Ruspandi. "Kata suami saya, kita membawa bekal
ilmu manasik haji saja semantapnya agar memperoleh haji mabrur,"
lanjutnya.
Petugas
geleng-geleng kepala, lalu berdecak kagum. "Itu cara yang sangat tepat, sebab
semua keperluan jamaah sudah dipersiapkan pemerintah, termasuk soal makanan dan
keperluan sehari-hari," ucap petugas.
"....Wa tazawwaduu, fainna
khhairazzadittaqwa. Wattaquuuniya ulil albab. (Berbekallah secukupnya, sebaik-baik
bekal adalah taqwa. Bertakwalah kpd-Ku hai orang yang cerdas.)" ujar Petugas
mengutip Ayat Qur'an: 2 : 197.
Note: Sangu = Bekal
Ditulis oleh Hasbi Salim
