Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Hasbe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasbe. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2016

HASBE: KAKEK TIDURAN DI MASJID


Pada sebuah masjid Tahfiz, sejumlah anak muda sibuk dengan aktifitas membaca, tahsin (memperbaiki bacaan) dan menghafal Al Qur'an.
Di sudut masjid, ada seorang kakek dengan pakaian yang kumal berbaring-baring setelah ikut shalat berjamaah.
"Kek, usia kakek sudah berapa?" tanya anak muda dengan lantang.
"Baru 70 tahun," ucap kakek dengan malas.
"Mestinya seusia kakek ini, jangan banyak tidur-tiduran lagi. Sisa usia kakek lebih baik digunakan untuk menghafal Al-Qur'an seperti ank-anak itu," ucap pemuda dengan bangga.
"Aku tak sanggup lagi menambah hafalan. Paling muraja'ah1," ucap kakek itu, lalu cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangannya karena ia merasa terlanjur mengucapkan kata yang seharusnya tak ia ucapkan.
"Maaf, kalau boleh tahu tadi kakek muraja'ah juz ke berapa?" desak pemuda.
"Mmm…, tak enak, Cu," ucap kakek.
Pemuda itu terus mndesak.
Akhirnya sang kakek terpaksa menyebut, "ke-29."
Pemuda itu pun langung tersungkur di hadapan kakek itu dengan mulut mengucap maaf berkali-kali dan deraian air mata yang tak henti-henti.

1 Muraja'ah (mengulang hafalan)


Ditulis oleh Hasbi Salim


Rabu, 21 Desember 2016

HASBE: ANAKKU PELITAKU


Pada suatu hari Bu Aida, seorang ibu muda marah-marah pada anaknya karena anaknya tidak membereskan mainan yang berserakan di ruang tamu seusai bermain bersama temannya.
"Berserakan begini, apa mau Ibu buang?!" ucap bu Aida dengan mata memerah.
Sang anak pun merapikan dan mengembalikan mainannya dengan perlahan tanpa suara.
Hari berganti hari.
Minggu bertukar minggu.
Suatu sore anak Bu Aida menemukan baju-baju ibunya berserakan di ruang tamu. Ia memegang kepalanya sendiri, lalu bersuara, "Berserakan begini. Apa mau Adi buang?!"
Kontan saja bu Aida kaget. Ya Rabb, anakku cahayaku. Maafkan dia dan diriku. [ ]


Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 11 November 2016

HASBE: SETIA


Suatu hari dua orang berteman pergi ke sebuah hutan. Tiba-tiba ada beruang yang ganas datang. Kedua bersahabat itu pun lari tunggang langgang. Salah seorang dari dua org itu naik ke atas pohon. Yang satunya tidak sempat ke mana-mana.
Lantaran tidak sempat ke mana-mana. Ia pun mengubangi tubuhnya dengan lumpur, lalu berbaring pura-pura mati.
Beruang mencium seluruh tubuh sosok yang berkubang lumpir. Ia membauinya hingga ke telinga. Ia berkeyakinan itu mayat.
Rupanya beruang tidak sudi memakan manusia sudah mati. Oleh karenanya ia meninggalkan sosok yang dikiranya orang mati.
Teman lelaki yang tadi naik ke atas pohon turun melenggang mendekati.
"Apa kata beruang tadi di telingamu?" Seraya tertawa terbahak-bahak.
"Katanya jangan berteman dengan orang yang tidak setia kawan!"
"Ha!?" [ ]


Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 04 November 2016

HASBE: TAKUT DEMO


Bu Ainah gundah hatinya. Sudah beberapa hari ini ia mengalami hal ini.
"Kenapa hatimu galau?" tanya Bu Lela.
"Soalnya anakku, Si Nor Aida, mau ikut demo besar-besaran nanti," ucap Bu Ainah dengan suara memelas.
"Kenapa harus takut?" desak Bu Lela.
"Gimana tidak takut. Kalau-kalau rusuh," ucap Bu Ainah. "Maklum kumpulan orang banyak," tambahnya.
"Ya, apalagi kalau ditunggangi," sahut Bu Lela.
Tiba-tiba Bu Lela tertawa terbahak-bahak. Ia rupanya tidak bisa menahannya.
"Kenapa kau ketawa begitu?" 
"Saya baru mendapat sms dari anakmu, yang bernama Nor Aida," ucap Bu Lela."
"Ada apa?" desak Bu Ainah.
"Ia mohon izin demo alat-alat masak di kantorku," ucap Bu Lela.
"Jadi?" tanya Bu Ainah.
"Ya, anakmu demo alat memasak," ucap Bu Lela.
"Alhamdulillah!"


Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 28 Oktober 2016

HASBE : PENGGANDAAN UANG?


Suatu pagi Bu Unah, seorang nenek yang berprofesi sebagai pengusaha datang ke pedepokan Abu Fulus yang terkenal bisa menggandakan duit.
"Mau apa, Bu?" tanya Abu Fulus pura-pura nggak tahu maksud kedatangan tamunya.
"Mau minta gandakan uang," ucap Bu Unah.
"Maaf, saya tidak bisa menggandakan uang," ucap Abu Fulus.
"Katanya Bapak bisa," desak bu Unah.
"Tolonglah!" lanjut perempuan itu sambil meringis memohon.
"Kadang-kadang saja," ucap Abu Fulus.
"Ini ada uang saya 2 M. Mudah-mudahan Bapak bisa membantu," ucap Bu Unah sambil menunjuk sebuah resek jumbo warna hitam yang kusut namun penuh dengan uang.
Abu Fulus geleng-geleng kepala. Sebab ia sesungguhnya tidak bisa menggandakan uang. Kepalanya lebih pusing lagi ketika terbersit dalam pemikiran, kenapa orang-orang yang datang minta uangnya digandakan para milyunir, bukan orang-orang miskin yang minta-minta di jalan.
???????

Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 21 Oktober 2016

HASBE: RAJA AKAL


"Kalian ini, di mana-mana main hp terus. Paling bisanya cuma BBM-an dan chating-chatingan," ucap seorang kakek kepada para pemuda yang asyik mengeser-geser layar sentuh hp masing-masing di bebangkuan taman kota.
"Kalau ditanya bagaimana bikin alamat fb baru, pasti nggak bisa!" lanjut kakek dengan suara lantang.
Kontan saja semua pemuda berhenti dari aktivitasnya.
"Apa, Kek?" tanya seorang pemuda sambil berdiri lalu mendekati sang kakek.
"Bikin alamat fb baru," jelas sang kakek.
"Saya bisa, Kek," ucap beberapa pemuda serentak.
"Ayo, sini kalau bisa," tantang sang kakek sambil menyodorkan sebuah laptop. "Langsung coba!" desaknya.
Para pemuda itu pun berebut menujukkan kemampuannya dalam bidang IT.
Setelah selesai, sang kakek mengangguk-angguk. "Ini baru hebat!" ujar sang kakek sambil mengacukkan jempol. [ ]


Ditulis oleh Hasbi Salim



Jumat, 14 Oktober 2016

HASBE: GAYA ANAK KULIAH


Dua orang pemuda sedang bercengkarama ria di dalam angkotan perkotaan yang penuh dengan penumpang. Sesekali mereka memperbincangkan tentang serunya perkulihan. Apalagi saat mengikuti perkuliahan salah seorg dosen idola mereka yang luar biasa cerdasnya, yang juga rektor PT itu. Maklum baru tingkat pertama kuliah di kota.
"Nanda, sekolah di mana?" tanya seorang kakek.
"Kami tidak sekolah lagi, Kek. Kami kuliah!" jelas salah seorang dari pemuda itu.
"O, kuliah. kuliah singkat seperti kultum, apa kuliah subuh?" tanya kakek itu.
Kedua pemuda itu pun tertawa terbahak-bahak.
       "Masa, Orang se-neces ini dibilang kuliah subuh, gimana, Kakek ini!" ucap salah seorang penumpang.
''Ya, kami kuliah di perguruan tinggi, Kek!" ucap salah seorang pemuda.
“Kalau nggak salah kalian tadi menyebut nama seseorang. Siapa itu?" ucap si kakek.
"Kalau kami jelaskan pasti kakek tidak mengetahuinya juga," ucap salah sorang pemuda itu. "Percuma!" lanjutnya dengan nada tinggi.
Tiba2 dompet kakek terjatuh. Pemuda itu mengambil dompet yang jatuh itu untuk menyerahkan kepada kakek itu. Tanpa sengaja, pemuda itu memperhatikan gambar yang melekat di dompet tersebut.
"Gambar siapa ini?" tanya pemuda.
"Inilah orang yang kami perbincangkan tadi," ucap pemuda itu.
"Ini gambar cucuku," ucap kakek itu.
Kontan saja kedua pemuda itu kaget. Mulut keduanya pun seperti terkunci. [ ]


Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 07 Oktober 2016

HASBE: SANGU


Pada suatu hari Ruspandi dan Rahimah, sepasang suami-istri merasa beruntung sekali bisa menunaikan ibadah haji, setelah menyisihkn uang gaji sebagai PNS dan guru mengaji selama 20 tahun.
Hari berangkat sudah diketahui, tepatnya seminggu lagi. Kedua suami istri itu nampak tenang-tenang saja. Berbeda dengan pasangan lainnya yang juga akan berangkat haji yang rata-rata sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk bekal di perjalanan. Misal Udin, telah menyiapkan pakasam buat makan, Ubaidillah menyiapkan iwak rabuk dari haruan, Juhai menyiapkan mandai wan iwak talang, Julak Ami menyiapkan wadi papuyu wan hintalo bajaruk.
Keberangkatan pun tiba. Nasib naas menimpa kawan-kawan Ruspandi yang telah mempersiapkan bawaan ke Tanah Suci sebab petugas melarang membawa barang-barang bawaan yang merepotkan apalagi yang menimbulkan bau "aneh", seperti pakasam dan wadi.
"Barang-barang di tasmu tidak ada yang ditinggal petugas?" tanya Pembimbing Ibadah kepada Ruspandi.
"Tidak. Sebab kami memang tidak membawa apa-apa," ucap Ruspandi.
"Betul, Pak," timpal istri Ruspandi. "Kata suami saya, kita membawa bekal ilmu manasik haji saja semantapnya agar memperoleh haji mabrur," lanjutnya.
Petugas geleng-geleng kepala, lalu berdecak kagum. "Itu cara yang sangat tepat, sebab semua keperluan jamaah sudah dipersiapkan pemerintah, termasuk soal makanan dan keperluan sehari-hari," ucap petugas.
"....Wa tazawwaduu, fainna khhairazzadittaqwa. Wattaquuuniya ulil albab. (Berbekallah secukupnya, sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertakwalah kpd-Ku hai orang yang cerdas.)" ujar Petugas mengutip Ayat Qur'an: 2 : 197.

Note: Sangu = Bekal

Ditulis oleh Hasbi Salim


Jumat, 30 September 2016

HASBE: BELAJAR DARI KUCING


Suatu hari Andin (5 th) menangis tersedu-tersedu. Ia baru dari gudang. Bergegas memeluk ibunya yang asyik nonton tv.
"Ada apa, Nak?" tanya ibunya. Heran.
"Andin sayang mama," ucapnya berkali-kali di sela-sela tangis.
"Ya, ya. Mama juga, Nak." ucap ibunya sambil membelainya.
Selidik punya selidik, ternyata Andin baru menyaksikan kucing kesayangannya melahirkan anak. Rupanya ia membayangkan seperti itu sakitnya melahirkannya. Dimana kucing itu meraung-raung. Ia membayangkan betapa ia yg beratnya 4,9 kg saat dlahirkan, paling berat diantara 2 saudaranya.
Tiba-tiba, mamanya juga menangis tersedu-sedu. Ia memeluk erat anaknya. Cuma dalam pikiran mamanya mengenang nenek anak itu yang melahirkan dirinya dan membesarkannya hingga menjadi mama pula.
"Maaf, hari raya ini anakmu belum berkesempatan pulang mencium tanganmu, bahkan mengirimimu sesuatu yang kau perlukan pun belum mmpu," ucapnya di hati sambil mngusap air matanya dengan ujung jilbabnya.
"Kok, Mama nangis juga?" ucap Andin.
"He ih."


Ditulis oleh Hasbi Salim


Statistik Pengunjung

Flag Counter