Pages

Ads 468x60px

Jumat, 19 Agustus 2016

PUISI NOVY EKO PERMONO: LELAKI TUA DAN KOPI KERINDUAN


Puisi I
SAJAK KERINDUAN

Kisah itu berawal dari pertemuan
Bukan….
Pertemuan bukanlah awal . .
Pertemuan adalah kerinduan
Dan kini tinggal pilu
Merasuk ke tulang hingga ubun-ubunku


Wonogiri, 9 Mei 2016
Pernah dipublikasikan di Antologi Puisi “BAPER” yang diterbitkan Bebook Publisher.





Puisi II
LELAKI TUA

Wajah itu memandang ke arah riuhnya pepohonan
Entah melamunkan apa
Setiap daun berguguran tak luput dari matanya
Bagaikan onggokan batu
Duduk termenung kaku,
Di emperan rumahnya yang lusuh, tak terawat
Wajah itu masih memandang ke pepohonan
Berharap ada sosok datang, dari balik keriuhan, mungkin

Pria itu tak lagi muda
Keriput jelas tergambar dipipinya
Entah mantra apa,
Yang membuat dirinya setiap hari termenung
Kaku …
Ahhh … sudahlah
Lelaki tua memang selalu merindukan masa mudanya


(Wonogiri, 26 Maret 2016)





Puisi III
SECANGKIR KOPI KERINDUAN

Pagi itu datang menggelayut
Entah bermimpi apa aku semalam
Tiba-tiba saja aku mencium aroma,
Aroma yang pernah ku kenal

Aku lalu membuka mata
Melihat rinai mentari nan anggun
Itu adalah sosok mu
Yang perlahan mulai menyadarkanku

Aku perlahan menuju aroma itu
Merasakan kembali sosok mu
Kopi ini mengingatkanku
Pada kerinduan yang sudah mulai usang

Setiap kucecap kopinya
Aku merasakan pengalaman yang berbeda
Namun terlalu banyak pilu
Menggelayut semu


Wonogiri, 20 Juni 2016




BIODATA
Novy Eko Permono berdomisili di kaki gunung Gandul Wonogiri. Gemar bermain ping pong dan terkadang menulis puisi. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: novy eko permono.




9 komentar:

  1. Monggo di sruput mumpung masih hangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mayan kwe nop. πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

      Hapus
    2. terimakasih tuan tanah, syudah berkenan mampir dan membaca

      Hapus
  2. Menurut saya
    Puisi 1 kata "merasuk" saya kira kurang pas dan mengena diksinya..

    Maaf atas komentarnya. Hehehe.. setiap penyair berpendapat berbeda beda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. owh iyah man,terima kasih buat masukannya.
      yen menurutmu yang pas apah ??

      Hapus
  3. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. terima kasih sudah menyempatkan membaca joko, aku tunggu puisi mu yak

      Hapus

Statistik Pengunjung

Flag Counter